Dari awal hamil si Kiddo, entah kenapa saya feelingnya akan punya bayi laki-laki. Ditambah beberapa mitos aneh-aneh yang semakin menguatkan feeling tersebut, seperti tidak mual, tidak suka dandan, malas-malasan, kalau menggendong anak cowok si anak anteng dan bukan nangis, sampai kebiasaan tidur sukanya madep kiri dibanding kanan. Hal-hal tersebut berarti anak yang saya kandung adalah laki-laki. Ya, saya memang terima apa aja jenis kelamin si Kiddo, tapi karena waktu hamil saya suka banget liat anak laki-laki dibanding anak perempuan (satu lagi pertanda!), saya jadi seneng banget dengan mitos-mitos dan dugaan tersebut. Apalagi, sepupu ipar saya pun bilang “tebakan gue anaklo laki nih. Dan tebakan gue gak pernah meleset sekalipun setiap nebak perempuan hamil”. Semakin sumringahlah saya, ‘tu kan feeling saya bener’.

Pada saat kehamilan semakin besar, dokter menyatakan “Anaknya sementara ini perempuan nih bu”. Kok sementara? Tanya saya waktu itu. Dokter pun menjelaskan bahwa ada kemungkinan berubah kelamin seiring dengan pertumbuhan janin. Saya masih berpegang pada mitos dan feeling saya, dan menyatakan pada diri sendiri “nanti pasti jadi laki-laki.”

Masuk usia kehamilan tua (8 bulan), keyakinan orang-orang di sekitar mulai menurun. Ada yang bilang “Ibunya cantik, pasti anaknya cowok”, ada juga yang ngomong “wah kamu hamilnya berantakan, pasti anaknya cewek”. Sampai sekarang saya gak tau apakah semasa hamil saya sebenarnya cantik atau berantakan hahaha. Apalagi ibu saya pun bilang “ini bentuk perut kamu gak begitu lonjong gak begitu melebar, jadi bisa cowok bisa cewek nih”. Yang paling dahsyat adalah kalimat dokter pas meriksa “ini kelaminnya perempuan, tapi detak jantungnya kok detak jantung anak laki ya”. Nah loh, massa pun galau. Saat itu saya sudah tidak peduli lagi jenis kelamin sebenarnya si Kiddo, yang saya tanyakan ke dokter dengan tegas adalah “apakah anak saya sehat sempurna?” that’s it.

Pemilihan nama anak pun jadi ragu-ragu icuk, akhirnya menetapkan satu nama yang unisex, yang bisa dipakai ketika si anak lahir, mau dia laki-laki atau perempuan. Cuma nama belakangnya aja yang kami bikin 2 alternatif, mau yang feminin atau maskulin. Pembelian barang-barang bayi? Saya dan Lut sebenernya anti pink, jadi pasti kami beli semua warna selain pink.

Sampai dengan menjaling persalinan, dokter kembali mengkonfirmasi “anak ibu perempuan, dengan detak jantung laki-laki”. Saya tanya perbedaan detak jantung, dan saya dapatkan jawabannya. Selama anak saya tidak memiliki kelainan, saya bersyukur. Apalagi dokter menutup dengan “berarti anak ibu ini adalah perempuan yang tangguh”. Amiin ya robbal alamiin, doa saya penuh harap.

Ketika lahir, sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dokter lah yang paling benar diantara semua mitos, dugaan bahkan tebakan semua orang; anak saya terlahir perempuan. “Denyar” nama yang sudah kami persiapkan, disandingkan dengan nama “gemintang” supaya lebih girly. Tidak bisa kami batasi, pemberian kado setelah Denyar lahir sontak dibanjiri dengan nuansa warna merah muda. Yah, mau bagaimana lagi, warna merah mudah dan biru sudah dianggap sebagai warna mutlak pembeda identitas seorang bayi.

Karena saya menganggap tindik telinga merupakan hak asasi Denyar atas tubuhnya, selain menghindari hal-hal yang tidak steril masuk tubuhnya melalui tindikannya, saya dan Lut memutuskan untuk tidak memasangkan anting pada Denyar. Sampai kapan? At least sampai dia menginginkan telinganya ditindik, baru kami penuhi. Buanyak buanget yang komentar “kok gak dikasih anting sih? Kan dia perempuan”. Well, bukannya saya menginginkan Denyar jadi anak laki-laki, tapi bagi saya pribadi, identitas penentu laki-laki atau perempuan seorang anak tidak mesti ditampilkan lewat anting kok. Untunglah ibu dan ibu mertua saya menghargai keputusan kami dan tidak meminta untuk membolongi telinga cucu mereka itu.

Aksesoris anak perempuan sekarang lagi happening; dari mulai baju-baju princess, rok tutu, sampai dengan bando/bandana bunga besar yang menghiasi kepala. Namun kesemua hal tersebut sampai saat ini tidak masuk dalam daftar belanja saya dan Lut untuk Denyar. Lebih kepada bukan selera kami aja sih. Mungkin nanti kalau Denyar sudah besar dan ingin tampil feminin, kami akan sediakan.

Alhasil, karena identitas mutlak yang berlaku di masyarakat seperti anting, rok cantik, dan hiasan kepala tidak dipakai, Denyar pun sering dikira laki-laki oleh 90% orang di jalan yang tidak dikenal. Ya sudah, itu menjadi risiko saya yang jadi harus menjawab lebih panjang. Untung sekarang saya sudah terlatih hehe.

Image

Denyar ke mall!

Advertisements