Sejak melahirkan Denyar, saya berniat untuk memberikan asi eksklusif kepadanya secara keras kepala. Keras kepala disini maksudnya adalah menyusui sampai titik darah penghabisan. Minimal 6 bulan, maksimal 2 tahun, itu obsesi saya. Namun pada perjalanannya itu sendiri tidaklah mudah. Hampir semua ibu yang baru melahirkan pasti tahu betapa menyebalkannya suster rumah sakit sewaktu memijat payudara mereka dengan paksa. Saya pun jauh lebih meringis dibanding ketika kaki dipijat refleksi. Itu ujian paling pertama dari perjalanan menyusui saya. Setiap suster masuk kamar saya membawa baby oil dan bilang “yuk bu, kita massage dulu”, saya bergidik takut. Sebenarnya bukannya asi saya tidak keluar sama sekali, tapi selain untuk memperlancar pemberian asi kepada si Denyar, juga sepertinya itu jobdesk wajib suster untuk menyiksa payudara sang ibu baru di rumah bersalin hehe.

Ujian kedua lebih berat dari ujian pertama. Di hari ketiga saya melahirkan dan siap-siap untuk pulang ke rumah, kami dikejutkan dengan berita buruk, yakni bilirubin Denyar tinggi, mencapai 16 (acuan angka normal adalah di bawah 12). Segeralah tanpa prosesi perpisahan yang proper, ia dibawa ke ruang bayi untuk ditempatkan di blue light box selama 24 jam pertama. Kok pertama? Ya, minimal disinar 24 jam untuk membuang racun dan menurunkan bilirubinnya. Jadi kalau 24 jam hasilnya masih tinggi, harus ada 24 jam kedua, ketiga, dan seterusnya. Sebagai ibu yang baru mengalami euphoria mendekap, menggendong, menyusui, dan mencium bayi mungil yang baru saya lahirkan, tentu saya mengalami baby blues harus dipaksa pisah dengan si Denyar. Rumah sakit bersalin saya sangat strict, ruang bayi tidak boleh dimasuki siapapun kecuali petugas, Denyar hanya bisa dilihat dari balik kaca ruangan tersebut, serta tidak bisa menyusui langsung krn penyinaran tidak boleh nonstop. Disinilah dimulai perjuangan saya untuk bisa terus memberikan Denyar asi. Dengan kekuatan yang saya punya, saya pompa payudara, baik dengan alat elektrik maupun manual demi bisa memberikannya ke ruang bayi untuk diminumkan ke Denyar. 10cc, 20cc, 10cc, 20cc begitu terus pada beberapa kali memompa awal. Susternya bilang kalau bayi baru lahir membutuhkan 30cc susu setiap minumnya, jadi saya harus lebih sering memijat dan memompa. Ditambah bayi akan kelaparan setiap 2 jam sekali. Alhasil demi Denyar, malam itu saya tidak tidur hanya untuk memompa, memberikan ke suster, memompa, memberikan ke suster, terus begitu. Sempat tertidur dengan baju masih terbuka bekas mompa dan ketika terbangun langsung tangan refleks bergerak memompa padahal alatnya tidak ada, sedang dicuci suster. Sebegitu stresnya saya; takut Denyar kelaparan. Sampai akhirnya, karena kurang tidur dan sering nangis karena kangen, asi saya semakin berkurang, 5cc, 10cc, 5cc, 10cc, astaga makin saya gelisah. Bagaimana Denyar bisa kenyang dengan botol-botol asi yang saya berikan ke dalam ruang bayi yang hanya terisi di pantat botolnya saja. Saya pun tidak berpikir jernih lagi; saya berbicara kepada suster bahwa saya menyerah dan bersedia memberikan izin kepada rumah sakit untuk memberikan susu formula kepada bayi. Suster sempat bertanya berkali-kali untuk mendapatkan jawaban final saya. Saya masih ragu-ragu karena itu berarti saya menyerah dari niatan saya menyusui eksklusif, hanya di hari ke-5 melahirkan? Ya sudah, singkat cerita, setelah saya menandatangani surat pernyataan pemberian sufor, entah kenapa saya bisa tidur sekian jam malam itu. Harapan saya pada saat itu adalah Denyar tidak akan pernah kelaparan, itu saja. Saya terbangun dini hari dan tergerak untuk memompa lagi. Eh, dapat 50cc, hati langsung senang, langsung panggil suster untuk memberikan susu tersebut. Ketika suster di dalam kamar saya, saya menanyakan dengan pasrah, “sus, anak saya udah minum berapa kali sufornya?”. Jawaban suster membuat saya tercengang, “belum sama sekali bu, kami memang tidak akan memberikannya kalau si bayi tidak kelaparan dan tidak ingin minum. Bayi ibu daritadi tidur anteng, nah sekarang karena ibu udah ada asi-nya lagi, saya akan bangunkan dan berikan ke si kecil”. Saya gak bisa menahan jatuhnya air mata saya. Bahwa si bayi yang baru beberapa hari ‘kenal’ saya ini mau menunggu sampai saya sudah bisa memberikannya asi lagi. Wow. Sejak malam itu, hasil pompa saya selalu cukup untuk kebutuhan Denyar, hingga dia keluar dari blue light box dan berkumpul bersama lagi.

Ujian ketiga saya alami ketika bulan ketiga sejak melahirkan, yaitu saya harus kembali kerja. Saya bekerja dengan membawa tambahan barang baru di dalam tas, yaitu 1 set alat pompa, ice gel dan box-nya, dan plastik penyimpan asi. Karena daya tahan ice gel cuma 8 jam, maka setiap saya sampai di kantor, saya masukkan ice gel dan asi hasil pompa ke dalam kulkas kantor, lalu saya baru masukkan tas lagi ketika beranjak pulang. Selama saya kerja di kantor, ada 3x lah waktu mompa, yang mana karena ruangan kerja saya berkaca transparan dari luar, maka saya memompa di kolong meja atau merapat ke dinding. SEBEGITU SUSAHNYA. Kejadian lucu pernah saya alami di minggu pertama saya membawa tentengan itu pulang ke rumah dengan naik kereta. Karena di hari itu saya bawa tas kerja yang kecil, alhasil tas asi saya tenteng terpisah di tangan kiri. Kereta sore memang luar biasa penuh sesaknya, apalagi kalau naik yang jam 5 sore. Saya berdesak-desakan untuk masuk ke dalam kereta dan mencari posisi berdiri yang nyaman (meskipun tidak pernah nyaman). Pada saat saya mencari posisi, tangan kiri saya masih tertinggal di belakang diantara pintu kereta, bahu dan kepala penumpang lain. Karena panik dengar bunyi tanda pintu kereta akan ditutup, saya secara keras berseru, “susu saya kejepit, misi dong!” Saya baru menyadari kalimat itu lucu ketika orang-orang pada menengok saya dan melihat dada saya sambil tertawa. Astaga, langsung dengan malunya saya mengangkat tangan kiri saya yang pegang tas asi, dan bilang “hehe maksudnya ini, susu di dalam sini”. Hadeuh, muka saya udah gak jelas merah kayak gimana. Kembali ke ujian, bukan momen membawa susu pulang dari kantor yang berat buat saya. Tapi ada hari-hari dimana saya tidak selalu di kantor karena beberapa keharusan meeting dan bertemu orang-orang di luar, sehingga susah bagi saya untuk memompa. Beberapa kali saya pulang dengan kondisi meriang karena payudara saya terasa penuh dan bengkak akibat tidak terpompa. Beberapa kali saya pulang dengan rembesan susu di kemeja saya yang susah payah saya tutupi dengan tas akibat payudara yang berontak. Beberapa kali saya mengaduh kesakitan di dalam kereta kalau ada orang yang tidak sengaja menyenggol payudara yang demikian cenut-cenutnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak lagi menunda memompa di jam kerja. Hasilnya, saya sudah bisa memompa di polres (!), di dalam mobil menuju meeting, dan di parkiran kantor klien. Ujian ketiga beres dilewati.

Ujian keempat? Saat ini sedang saya alami. Saya menderita diare akut selama seminggu terakhir; bolak-balik ke kamar mandi sampai lemas dan lelah, tidak napsu makan, dan hampir dehidrasi. Dokter sampai heran saya tidak tumbang padahal level diare saya termasuk parah. Dokter bilang kalau ada bakteri di dalam usus saya, yang mana hanya bisa dihilangkan dengan obat anti bakteri yaaaaangggg… kalau sedang mengkonsumsi obat tersebut tidak boleh menyusui. JRENG! Saya berarti harus memilih antara menyembuhkan diri saya dengan mengorbankan Denyar, atau memprioritaskan kebutuhan susu Denyar tapi saya sakit terus-menerus. Pada dokter pertama saya bilang “saya mau tetap menyusui jadi saya tidak mau minum obat itu”. Hasilnya saya makin parah sakitnya. Diare dalam sehari semalam bisa mencapai 10x. Saya lalu berpikir, kalau saya sakit sama aja saya gak sayang sama Denyar karena gak optimal dalam menjaga, melindungi, membesarkan, bahkan bermain dengannya. Lantas saya ambil risiko dengan bilang ke dokter kedua bahwa saya membutuhkan obat itu, demi sembuh. Jalan tengah yang diambil adalah setelah minum obat itu saya dilarang menyusui/memompa untuk diberikan susunya selama 4 jam. Saya pun mulai berhitung, dan membuat jadwal kapan minum obat, kapan menyusui, kapan memompa, dan kapan nonaktif jadi ibu sapi. Saya berharap obat antibiotik segera habis, saya segera sembuh jadi tidak perlu tambah obat lagi, dan segera maksimal lagi dalam menjadi ibu sapi.

Saya yakin, kedepannya masih akan ada ujian-ujian lanjutan dalam memberikan asi eksklusif kepada Denyar. Tapi saya berharap saya masih akan terus keras kepala.  

Advertisements