Saya memiliki love-hate relationship dengan motor dan pengendaranya. Di satu sisi saya merasa terbantukan dengan jasa tukang ojek langganan yang mengantar saya dari stasiun ke rumah atau dari stasiun ke kantor, juga kalau saya lagi memerlukan keluar rumah ketika mobil sedang dipakai. Di sisu lainnya saya dongkol kesel sekaligus benci apabila harus berbagi jalan dengan pengendara motor yang tidak tahu (baca: tidak mau tahu) aturan lalu lintas. Alhasil seringkali saya menyumpahserapahi mereka yang bikin jantung saya berdebar atau bahkan hampir tidak berdetak sesaat. Saya ingat kalimat seorang teman, “kita kalau lagi naik mobil benci setengah mati sama orang naik motor. Tapi kalau lagi naik motor benci setengah mati sama orang naik mobil”. Eh ternyata bener loh, saya mengalaminya. Kalau lagi di dalam mobil ada motor ngaco, selain menglakson kenceng2 utk ‘ngomel’ ke mereka, jg ngomong sendiri “rese banget sih ni motor, guwoblok!”. Tapi kalau lg naik motor yang ngaco (nerobos lampu atau lawan arus), lalu kami diklakson sama mobil, pasti saya ngomel “berisik amat sih ni mobil!” Atau bilang ke si pengendara “ati-ati..” Hahahaha.

Baru-baru ini saya menyadari suatu fakta yang ironis. Dari mulai sebelum ada PP No. 55 Tahun 2012 yang memberi ketegasan, sudah mulai diatur bahwa yg naik motor itu adalah 2 orang, terdiri dari pengemudi dan penumpang. Hal ini didasarkan pada keamanan dan keselamatan tentunya. Motor kan memang didesain untuk didudukin oleh 2 ‘bokong’. Lebih dari 2 menjadi tidak aman, tidak pas, tidak seimbang dsb. Saya setuju akan hal tersebut. Nah, tapi tidak selamanya 1 keluarga yang memiliki motor hanya terdiri dari 2 orang kan.. Pasti akan ada orang ketiga, yaitu anak. Anak juga bisa menjadi anak pertama, anak kedua, dan sebagainya. Atau keluarga yang terdiri dari ibu kandung atau ibu mertua yang mungkin sudah janda jadi tinggal bersama anak-cucu. Yah intinya, 1 keluarga sudah tidak cukup lagi punya 1 motor. Kalaupun mereka (ibu-ayah-anak) ‘mencukupkan diri’ utk bepergian barengan dengan mengandalkan 1 motor tsb, berarti mereka mengabaikan keselamatan (sering sekali saya melihat di atas motor terdiri dari ayah, ibu, anak pertama duduk di depan ayah, anak kedua diantara ibu dan ayahnya, anak ketiga yg masih bayi digendong ibunya).

Nah, di sisi lain, kalau ada keluarga yang patuh aturan dan paham akan keselamatan, mereka memfasilitasi kebutuhan berkendaraan mereka dengan menambah jumlah motor di rumahnya. Mereka membobol tabungan sendiri untuk membeli motor, atau paling sering mereka melakukan kredit/pinjaman/cicilan motor sehingga kebutuhan terpenuhi. Ditambah produsen-produsen motor sendiri saling bersaing karena banyak permintaan penambahan unit setiap harinya, jadi mereka memberikan harga bersahabat atau memudahkan cara mendapatkan motor dengan cara kredit/pinjaman/cicilan dengan uang muka yang tidak besar.

Nah! Itulah yang menjadi masalah juga pada akhirnya. Setiap hari unit motor yang ada di showroom berkurang, dan unit motor yang beroperasi di jalanan bertambah. Apa imbasnya? Makin padet. Makin macet. Makin chaos. Makin banyak orang/pengendara yang suka pakai aturan main sendiri.

Jadi bingung kan mau memihak sisi koin yang mana..

Jadi gimana? Harga motor dimahalin? Pajak motor digedein? 1 keluarga cuma punya 1 motor no matter what, jadi pergi-perginya bergantian? Gimana?

*hehe saya ingin menambah keruwetan pikiran yang baca saja daripada saya mikir sendirian*

Advertisements