Dari dulu saya memang tidak suka membuang sampah sembarang tempat. Mungkin karena saya mencerna sekali pelajaran moral waktu SD; kalau buang sampah sembarangan bisa menyebabkan banjir, dan saya tidak bisa berenang sehingga akan kesulitan kalau kebanjiran. Atau mungkin juga karena saya tidak suka bau sampah yang menumpuk lalu kemudian membusuk. Atau mungkin juga memang kesadaran (kebersihan) lingkungan saya sebenarnya tinggi. Apapun itu alasannya, pasti Hasnaeni-si-wanita-emas-yang-bisa-membuat-sampah-menjadi-emas-kalau-terpilih-jadi-gubernur-jakarta pasti akan sangat bangga dengan saya 😛

Apalagi saya naik transportasi umum utk menuju kantor dan kembali pulang kerumah. Cobaan banget tuh untuk tidak kesal atau sebal, karena 90% orang yang naik transportasi umum yg sama dengan saya itu tidak peduli dgn (kebersihan) lingkungannya; gampang banget tangan mereka membuang sampah, di bawah kursi, dilempar keluar kereta atau bis, ditengah koridor, di pojok halte, di tangga stasiun dan sebagainya. Padahal tempat sampah yang tersedia di sekitar lumayan tersebar,  jaraknya pun tidak jauh dari sampah yang dibuang. Kalaupun agak jauh dan takut gak dapat posisi yang enak lagi kalau udah beranjak utk buang sampah, ya sabar-sabar aja kek untuk taro sampah di dalam tas sendiri dulu. Mereka anggap tabu kali ya sampah tidak segera dibuang (kemanapun)…

Nah, akhirnya memang tas saya selalu jadi tempat sampah utk sementara. Mau apapun mereknya si tas, pasti selalu ada sampah-sampah di dalamnya hehe. Yang setiap hari saya keluarkan dari tas adalah sampah yang berupa tissue2 bekas (basah maupun kering), struk2 atm, karcis kereta atau busway, tiket parkir, plastik bekas jajan makanan, bungkus permen dan botol minum plastik bekas. Sampah yang ‘dikumpulkan’ mau gak mau memang jadi nambahi2in sampah yang dirumah. Belum lagi kalau sampahnya mengotori bagian dalam tas seperti yang saya alami baru-baru ini: sampah teh kotak yang ternyata masih ada isinya sedikit cukup sukses bikin buku tabungan saya agak basah dan henfon saya kecipratan teh yang tersisa. Akhirnya saya sekarang di dalam tas ada plastik kresek khusus untuk jadi kantung sampah yang siap dibuang beserta isinya ketika sudah sampai rumah. Rempong banget deh isi tas saya sekarang, belum termasuk bawaan wajib setiap harinya yang kadang-kadang terlihat seperti sampah yang tidak bisa dibuang hahaha.

Jadi inget sahabat saya baru-baru ini ngomong “nyampah mah di socmed aja, jangan di sembarang tempat” :))

Image

Advertisements