Saya sudah tahu bahwa seorang ibu sangat sayang pada anaknya, sehingga tidak ingin membuat anaknya susah atau sedih. Saya kenal betul seorang ibu yang merahasiakan sakitnya kepada anaknya (yang sudah besar) supaya si anak tidak susah dan sedih atas penyakit yang diderita ibunya. Karena saya adalah seorang ibu, saya dapat memahami alasan dia. Dia bilang, “supaya anak gue gak kepikiran, kasihan kalau sampai tau …” Saya pun akan berupaya apapun untuk tidak membuat anak saya susah dan sedih, persis seperti teman saya itu. Jadi saya diamkan saja aksi rahasia-rahasiaan dia dan berlaku biasa kepada anaknya seolah-olah ibunya orang yang paling sehat sedunia.

Lalu terjadilah kejadian yang saya alami beberapa hari lalu. Saya diminta untuk mengantarkan pulang Ibu saya dari berobat (pijat) di Bintaro ke Proklamasi di Jakarta Pusat. Karena jarak yang jauh untuk ditempuh pakai mobil dan waktu yang sangat bertepatan dengan jam pulang kantor, Ibu saya pun meminta saya untuk mengajarkan naik kereta saja. Memang, perjalanan dengan kereta (commuter train) jauh lebih hemat waktu dan efisien; kurang lebih hanya menempuh perjalanan 20 menit dari Bintaro sampai Tanah Abang, dilanjutkan naik taksi ke Proklamasi sekitar 30 menitan maksimal (kalau naik mobil mungkin bisa 2-3 jam). Saya pun menyanggupi untuk memilih cara itu. Hari itu hujannya awet, setelah saya selesai menyusui Denyar, saya pakai jas hujan dan naik ojek demi janjian tepat waktu dengan sang Ibu di stasiun. Saya kesampingkan rasa kedinginan saya (akibat angin dari hujan), yang penting bisa datang sebelum Ibu datang, sehingga Ibu tidak akan kebingungan. Singkat cerita, kami pun menunggu di stasiun agak lama karena kereta Ibu belum juga datang; adanya kereta ekonomi dan saya tidak mau Ibu naik itu. Menunggu dan menunggu kami habiskan dengan mengobrol. Ibu sesekali merapikan pashminanya, saya tanya “Ibu kedinginan ya?” beliau cuma senyum dan melanjutkan mengobrol. Karena tidak datang-datang juga dan semakin malam, saya tanya beliau “Ibu mau dianter aja gak nih?” Langsung ibu bilang “Gak usah, ibu bisa sendiri, ini mah gampang tinggal naik-turun doang, kalau bingung kan tinggal tanya”. Tapi entah kenapa saya ragu Ibu saya se-jagoan itu (meskipun selama ini kemana-mana biasa sendiri – tapi dengan mobil). Tanpa tanya Ibu saya lagi, saya menelepon rumah untuk make sure bahwa anak saya baik-baik saja dan pamit kalau saya pulangnya lebih malam lagi, serta beli tiket 1 lagi dan ketika keretanya datang, saya tanpa ragu naik ke kereta yang sama. Ibu pun bingung kenapa saya ikut naik kan saya jadi meninggalkan rumah lebih jauh lagi. Saya pun memilih untuk menemani Ibu dalam perjalanan kereta malam. Meskipun Cuma 20 menit kami berada dalam kereta yang sama, tapi saya tahu Ibu lebih tenang tidak musti duduk sendirian di dalam kereta, dan saya pun tenang. Akhirnya di akhir perjalanan,  Ibu bilang “Apa jadinya kalau gak ada kamu, ibu pasti bingung…” Ah, beliau mengaku juga. Akhirnya saya pun memastikan beliau sampai rumah dengan selamat.

Dari situ saya berpikir bahwa lebih baik Ibu bilang perasaan sebenarnya (ya takut ya bingung) daripada beliau berpura-pura dan menutupi hanya supaya saya tidak kepikiran. Saya tidak mau tidak mengetahui apapun yang ibu rasakan hanya demi ketenangan saya. Kalau saya bisa bantu, baik menghilangkan maupun hanya mengurangi beban yang dirasakan, saya akan jauh lebih tenang. Karena bagaimanapun juga saya (juga) adalah seorang anak.

PS: Saya akhirnya bicara ke teman saya itu, untuk mulai jujur pada anaknya, ceritakan semua tentang penyakitnya; karena anaknya berhak tahu kondisi dan perasaan ibunya, dan si anak wajib untuk melakukan sesuatu untuk membuat kondisi lebih baik.

Advertisements