Ada seorang teman saya yang jiper ketika mau melahirkan anaknya; saya pikir dia butuh dukungan untuk bisa berjuang melahirkan normal. Ternyata yang bikin dia jiper adalah dia mau ‘maksa’ melahirkan normal karena dia takut sama ibu-ibu di sekitarnya yang kerap mengomentari keputusannya kalau dia memilih jalan caesar sebagai cara bersalin yang paling tepat untuknya. Ibu-ibu di sekitar dia pokoknya tidak mendukung caesar sama sekali, dan terus mengintimidasi teman saya tersebut. Saya sempat bingung dan lalu menasehati, bahwa keputusan dia untuk melahirkan anaknya dengan cara apapun sebaiknya tidak diintervensi siapapun kecuali oleh obgyn atau suaminya. Wong yang hamil dan melahirkan siapa, kenapa musti peduli sama bully yang dilakukan orang lain? Intinya saya bilang ke teman saya, apapun keputusannya utk memilih jalan persalinan, pastikan yang menurut dia paling nyaman dan baik. Jangan sampai dia memaksa untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia inginkan demi menghindari intimidasi. Well akhirnya dia semakin mantap memilih caesar dan lalu dia lakukan itu; she has her reason and i supported her.

Bully ini sepertinya pernah terjadi sama saya somehow, tapi beda situasi. Sejak melahirkan Denyar, alhamdulillah air susu saya berlimpah untuknya. Selain menyusui langsung saya pun menyimpan stok dengan memompa payudara dan memasukkan asi perahan ke dalam botol-botol. Saya memang pernah mendengar bahwa memberikan asi perah melalui botol dot tidak terlalu bagus sebenarnya, karena bisa mengakibatkan si bayi jadi bingung puting dan bahkan malas untuk menghisap payudara ibunya. Namun alasan (atau pembenaran hehe) saya lain, yaitu selama si anak tidak bingung puting, sering menyusu langsung di payudara saya, saya tidak masalah memberikan asi perah melalui botol dot. Alasannya, supaya nanti si anak setiap mau menyusu (lewat botol) bisa mandiri dengan memegang ‘minumannya’ sendiri. Singkat cerita, ketika saya membawa Denyar jalan-jalan, kadangkala saya tidak bisa menyusui langsung karena kondisi tidak memadai (ya tidak ada nursery room lah, ya Denyar menolak pake nursing apron lah, ya tidak ada tempat nyaman lah dsb). Disitulah saya menggunakan botol dot untuk memberikan dia asi. Beberapa ibu yang di sekitar saya atau bahkan yang kenal dengan saya langsung menatap dengan tatapan cemooh seolah-olah yang saya berikan kepada anak saya adalah minuman beralkohol (!) Ada juga yang mengomentari cara saya tersebut dengan bilang “ih kok pake dot sih” dan kalimat lain sejenisnya. Jujur, saya merasa di-bully dengan tanggapan tersebut. Saya kadang jadi tidak pede untuk mengeluarkan botol dot apabila di tempat umum, dengan alasan takut dipandangin dengan tatapan gak enak atau dikomentarin. Tapi lantas saya berpikir sendiri, dengan saya menyusui bayi saya pakai cara saya, kenapa harus orang lain mengaturnya. Toh selama ini bayi saya bisa diajak kerjasama untuk terus menyusu langsung sama saya tanpa penolakan.

Tapi begitulah bully yang dilakukan ibu-ibu, bisaaaa aja bikin kita ciut dan gak pede sendiri. Seolah-olah ibu yang memakai cara lain (selain cara yang standar berlaku) dalam merawat anaknya itu tidak cinta pada anaknya dan tidak mau memberikan yang terbaik.

Saya yakin banyak ibu-ibu seperti saya yang merasa terintimidasi oleh lingkungan sekitar; terutama dalam hal merawat dan membesarkan anak. Ya di-bully karena si ibu kasih susu formula lah, ya karena si ibu kasih empeng lah, ya karena si ibu mengejar karir lah, ya karena si ibu berbagi tugas sama babysitter lah, dan masih banyak lagi alasan intimidasi orang-orang. Sampai si anak besar, jangan kira bully itu akan berhenti. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya saja lah itu.

We have our own way to raise our own child, and we have our own reason for it. Most mothers love their child(ren) big time and will not do any harm to their child(ren).

Jadi, ibu-ibu, please stop bullying!Image

Advertisements