Selama saya menjadi commuter dengan naik kereta commuterline setiap hari ke kantor dan pulang kerumah, baru kemarin saya menyadari sesuatu yang ironis. Ternyata diantara commuter rasa kepedulian dan empati mereka satu sama lain sudah jauh berkurang dan makin memprihatinkan. Dari mulai saya hamil aja, gak pernah dapet tempat duduk dari sesama penumpang kereta maupun bis; paling sering mereka pura-pura tidur atau sibuk dengan gadget-nya jadi gak perhatiin saya. Tapi memang waktu semasa hamil saya suka sok perkasa sih, gak pernah mau minta tempat duduk kalau merasa oke-oke aja berdiri. Seringnya malah petugas (baik transjakarta maupun kereta) yang menyadari saya hamil lalu meminta pada penumpang yang duduk untuk berdiri dan memberikan saya tempat duduk. Eh tapi bukan itu sih keluhan yang mau saya tulis sekarang; toh saya sudah brojol juga hehe.

Kejadiannya kemarin sore, saya naik kereta di jam sibuk, jam 5 sore lewat. Jam asoy geboy banget deh untuk pulang ke rumah, karena bersaing dengan ratusan orang yang juga mau naik kereta dari kantor menuju pulang. Saya sudah tahu konsekuensinya, yaitu tidak akan dapat tempat duduk, jadi saya tidak ikut tergerak untuk lari berdesak-desakan dan dorong-dorongan masuk pada saat pintu kereta terbuka. Saya jalan biasa aja dengan santai setelah mereka semua sudah ‘anteng’ di dalam. Saya tahu benar, tujuan mereka itu bukan karena takut ketinggalan kereta (wong kereta udah ada jadwal keberangkatan yang jelas dan sering on time kok), tapi lebih kepada mereka dorong-dorongan dan chaos sendiri demi mendapatkan tempat duduk (bagi saya yang jarak waktunya hanya 20 menitan sampai tujuan, tidak sama sekali mempermasalahkan berdiri). Nah, kemarin ketika saya mencari posisi tempat berdiri yang paling pas (untuk nantinya bisa keluar), saya melihat bapak-bapak setengah baya menggendong balita yang sedang tidur. Dia memang baru naik kereta di saat kondisi sudah less-chaotic, lalu si bapak celingak-celinguk mencari tempat duduk (yang sangat tidak mungkin sekali ada kondisi tempat duduk kosong). Perhatian saya langsung tertuju pada si balita kecil yang sedang lelap tidur. Oke, dia aman dan nyaman digendong ayah atau kakeknya itu. Lalu saya perhatikan si bapak yang menggendong si balita, dia tampak lelah (mungkin karena jalan dan turun tangga menuju kereta), lalu kepayahan harus menjaga keseimbangan dalam menggendong si balita dan mengupayakan agar si balita tetap tidak terganggu tidurnya. Mata saya tertangkap mata si bapak, lalu saya pun melihat sekeliling untuk ikut mencari tempat duduk untuk mereka. Saya pun akhirnya bicara dengan gank ibu-ibu di deretan tempat duduk prioritas (perlu dicatat, gank ibu-ibu ini berisik sekali dlm hal berebut tempat duduk tadi, sepertinya habis belanja banyak kalau dilihat dari gembolan yang dibawa mereka) “Bu, tolong kasih tempat, kasihan ada anak kecil digendong” sambil saya tunjuk ke arah bapak-bapak. Tanpa saya duga, si ibu-ibu menjawab “ehh, kita kan juga butuh duduk. Lagian yang dapet duduk itu ibu-ibu bawa anak, kalo bapak-bapak kan kuat”. Sumpah saya tercengang, gak nyangka akan dapet jawaban itu.

Saya baru menyadari, kalau tidak sepenuhnya si ibu-ibu ‘salah’ karena memang aturan (yang ditempel di dalam kereta) harus memberikan tempat duduk kepada 4 jenis penumpang: ibu hamil, manula, orang berkebutuhan khusus, dan ibu-ibu yang membawa anak. Ada yang perlu diperbaiki dari aturan tersebut. Kenapa hanya karena yang bawa anak kecil adalah laki-laki, lantas dia jadi gak perlu diberikan tempat duduk? Tidak selalu laki-laki itu lebih kuat berdiri atau keseimbangan tubuhnya lebih stabil, namanya juga di dalam kereta yang bergerak melaju kencang. Gak laki gak perempuan, gak ibu-ibu, gak bapak-bapak, jatoh mah jatoh aja. Apalagi ini bawa anak kecil! Gila ya otak ibu-ibu yang jawab saya tadi dgn kalimat begitu, gak mikirin keselamatan si balita yang digendong, fokusnya ke siapa yang menggendong. Hina banget ya bu, kasih duduk ke laki-laki??

PS: Akhirnya si bapak dapet tempat duduk juga, dari laki-laki muda yang mau turun di stasiun berikutnya. Gila juga kalau dia gak mau turun, belum tentu dia kasih tu tempat duduknya ke si bapak. Commuter oh commuter

Advertisements