Image

Semenjak kejadian yang akan saya ceritakan di bawah ini, saya jadi selalu ‘curiga’ setiap berkenalan dengan teman baru atau berhubungan kembali dengan teman lama. Loh kok?

Sebut saja namanya Yeni, seorang gadis muda awal 20-an tahun yang tiba-tiba menegur saya di suatu sore di tempat duduk di Plaza Indonesia. Ia pertama-tama menanyakan saya menunggu siapa, saya ingat sekali waktu itu saya menunggu jam macet berakhir dan saya sedang puasa jadi tidak bisa duduk santai di resto/cafe. Ia mengatakan menunggu dijemput orang tuanya. Singkat cerita, kami pun jadi berkenalan dan bercerita satu sama lain. Lumayan juga nunggu sampe Maghrib, pikir saya waktu itu. Yeni adalah gadis yang menyenangkan, dia mahasiswa fakultas ekonomi, anak bungsu, tinggal di Menteng, bapak-ibunya pengusaha sukses, dan dia jarang sekali ngobrol dengan orang asing (seperti yang kami lakukan satu sama lain). Pembicaraan berakhir karena saya mau buka puasa, dan sebelum kami berpisah dia memberikan kartu namanya, dan saya pun memberikan kartu nama saya. Siapa tahu bisa jadi klien di kemudian hari, pikir saya.
Beberapa minggu berlalu, ada telepon masuk ke handphone saya dengan nomor tidak dikenal. Somehow saya lupa tentang Yeni. Ketika saya angkat, dia pun langsung mengingatkan saya akan pertemuan kami waktu itu. Saya pun menyambut telponnya dengan riang gembira. Dia menanyakan pernyataan dan pertanyaan yang saya ingat saya terkejut ketika mendengarnya: “Saya ceritakan tentang mbak Devina ke orang tua saya, mereka merasa mbak Devina orang yang tepat untuk dijadikan kandidat bisnis keluarga kami. Mbak Dev bisa ketemuan gak?” Oke, tanpa saya berpikir panjang, saya pun mengiyakan, dan kami pun janjian di satu hari dan jam tertentu.
Hari yang dinanti (gak dinanti juga sih, tapi cukup bikin penasaran mau diajak bisnis apaan) datang juga, saya mengajak Lut untuk menemani saya. Selain saya parno takut dihipnotis lalu diculik (ini memang berlebihan), juga supaya saya bisa berpikir jernih ketika ada tawaran bisnis menggiurkan. Setidaknya dia bisa memberikan saran dan masukan nantinya. Oke, akhirnya kami bertemu. Yeni, ibunya, saya dan Lut. Si tante menyampaikan bahwa si om tidak bisa ikut bertemu, tapi cukup dengan diwakili tante dan Yeni. Oke, saya mulai berdebar sekaligus excited.
JRENG! Setelah berbasa-basi betapa Yeni pernah memuji keluwesan saya dalam berbicara dan sikap bersahabat saya dengan orang yang baru dikenal, kalimat pertama si tante yang akan saya ingat sampai tua nanti adalah: “Devina, kamu pernah dengar A*way belum?” DUG! Perasaan saya langsung gak enak. Dan apapun jawaban saya waktu itu, si tante langsung melanjutkan, “Yuk bergabung dengan kami dalam A*way, karena kami berpendapat kamu punya skill” bla bla bla saya gak inget lagi kelanjutannya, saya sibuk mengatur muka, dan Lut sibuk menendang-nendang kaki saya (pasti muka Lut kunyuk banget saat itu).
Gokil! No offense dengan MLM ya, tapi saya memang tidak tertarik di jalur tersebut dan gak punya bakat sama sekali untuk itu. Gemes banget, karena saya benar-benar diperdaya banget sama Yeni dan mulut manisnya waktu berkenalan. Jadi, dia minta name card saya bukan untuk jadi klien? Jadi, dia memuji saya itu bukan karena saya cocok jadi rekan bisnis? Jadi jadi jadi…. dia mengajak saya bertemu karena mau menawari dan mengiming-imingi saya utk bergabung dengan A*way si dedengkot MLM?? Oh great.
Percaya gak kalau saya bilang sejak hari itu saya menolak tawaran mereka sampai dengan setahun kemudian saya masih didekati, dikejar, dibujuk hingga dipaksa oleh keluarga mereka untuk ‘berbisnis’? Wong edan, segitu keukeuhnya. Akhirnya saya simpan nomer keluarga itu dengan nama “Orang Edan” atau “Jangan Diangkat” atau “Cuekin Aja”. Siapa tahu saya lupa nama mereka dan terus saya angkat kan bisa bikin males nanggepin lagi.
Padahal sebenarnya nih ya, Yeni itu orang yang sangat asik untuk diajak ngobrol dan berteman loh, sungguh sayang sekali. Eh tapi apa iya kalau dia gak punya maksud dia akan seasik itu?

Ada yang pernah diprospekin temen sendiri?

Advertisements