Image

Wahai anakku,

Ibu akan memberitahumu sesuatu yang pada saatnya nanti dapat kau cerna dan pahami. Ibu ingin membicarakan tentang pernikahan. Ya, pernikahan antara kau dengan pasangan pilihan terbaikmu kelak. Bukan persiapan pernikahan dan pesta meriah atau syukuran sederhana yang ibu maksudkan, meskipun memang menjadi bagian pengalaman hidup yang akan senantiasa kau ingat. Namun ibu ingin menceritakan tentang kehidupan setelahnya, yakni menjalani fase pernikahan itu sendiri. Hal inilah yang mungkin tidak akan kau dapatkan di buku cerita manapun, buku pelajaran manapun, film manapun, maupun panduan manapun. Oleh sebab itu, sebagai ibumu, ibu patut mempersiapkanmu dengan gambaran secara umum, meskipun pada akhirnya kau akan mengetahuinya sendiri apabila kau melangkah dan memutuskan menikah.

Putri kecilku, pertama-tama, ibu berharap kau kelak mengenal sebaik-baiknya sosok yang kau pilih untuk menjadi pendampingmu. Tabiatnya, perilakunya, budi pekertinya, kebiasaannya, tutur katanya, ilmu dan akhlaknya, kecerdasannya, kelemahannya, bahkan keburukannya. Tidak ada kepastian ukuran lamanya waktu kalian saling mengenal, namun apabila memang ia memiliki sebagian besar kelebihan yang kau senangi dan dapat kau terima, maka hatimulah yang akan menjadi penentu keputusanmu. Kau tentu tahu pada saat kau dewasa nanti, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang sempurna, bahkan mendekati sempurna juga sulit ditemukan. Yang terpenting dari ketidaksempurnaan pasanganmu adalah hal tersebut membuat kau belajar menerima, menolak, memaklumi, dan bahkan bekerja sama. Ya, pernikahan itu membutuhkan kerjasama, sayangku, kerjasama yang solid sekali. Bagaimanapun juga, kau dan pasanganmu adalah dua pribadi utuh yang memiliki perbedaan. Meskipun visi dan misi kalian di awal sama dan sejalan, belum tentu hal tersebut tidak berubah seiring dengan waktu. Kalau tidak disertai komunikasi yang baik dan pengertian yang besar, bisa dengan mudah menyerah untuk terus bekerja sama.

Perlu kau tahu bidadari mungilku, amarah dan murka akan menghiasi sebagian hari-hari pernikahanmu, namun jangan sampai terlahir rasa benci. Dengan benci tersebut, kau akan selalu melihat kesalahan pasanganmu sekalipun dia tidak berbuat salah. Dengan benci, kau bisa bertemu orang yang terasa lebih baik dari pasanganmu. Dengan benci, kau tidak akan lagi memiliki kebutuhan apapun dari pasanganmu. Dengan benci, kau bisa tidak peduli dengan komitmen dan tanggung jawab akan pernikahan. Dengan benci kau akan lupa seberapa besar upaya yang telah kau lakukan dalam mencapai ini semua.

Sebelum kau menikahi kekasihmu, ada hal-hal yang tidak akan kau perkirakan akan terjadi di dalam pernikahanmu. Pada perjalanannya nanti, kau mungkin tidak akan selalu mendapatkan rayuan mesra, belaian manja, dekapan hangat, hingga kecupan sayang. Bintang kesayanganku, jangan kau berkecil hati apabila hal itu terjadi di dalam hari-harimu kelak. Semoga saja bukan karena pasanganmu tidak mencintaimu lagi, atau kau yang tidak mencintainya lagi. Ibu berharap tidak akan pernah ada cinta yang mati di dalam pernikahan kalian; berkurang itu mungkin, berubah itu pasti, namun tidak boleh mati. Tidak boleh. Selalulah berusaha untuk tetap menjaga cinta itu selalu ada, karena itulah yang akan membuat kalian bertahan sampai kelak kalian terpisahkan oleh alam. Semoga kalian bertahan dengan bahagia, yang terkadang dapat dicapai dengan mudah dan sederhana.

Yang mencintaimu,

Ibu

Advertisements