Seorang teman dekat ‘mengirim’ lagu NAIF yang berjudul Janji Setia untuk gue lewat Twitter. Butuh diperdengarkan 7 kali tanpa jeda untuk mengerti makna, berpikir dan mulai muncul ide untuk menulis tentang hal ini.

Setia.
Banyak yang mengira “setia” itu adalah sesederhana “tidak berpaling ke lain hati”. Dan, lain hati disini didefinisikan sebagai sosok lain. Laki-laki lain. Perempuan lain. Keduanya kalau memang kemaruk.
Tapi sebenarnya bukan hanya sosok lain yang bisa membuat kita tidak setia terhadap pasangan kita. Banyak hal yang membuat kata “setia” menjadi lebih luas cakupannya dan lebih berat bobotnya. Sehingga setia tidak se-simpel “mencintai 1 orang saja” atau “menahan diri dari godaan laki-laki/perempuan lain”.

(lirik)
Berjanjilah
Tuk tetap setia
Pada saat kau jauh darinya
Kadangkala
Hati sulit putuskan
Untuk mencoba ke lain hatinya

Ok, yang paling simpel adalah setia dengan pasangannya tanpa berpaling ke orang lain. Sering digunakan kata “selingkuh” untuk aktivitas orang yang “tidak setia”. Sampai sekarang batas “perselingkuhan” itu garisnya tidak jelas ada dimana. Apakah selingkuh mata, selingkuh fisik, atau selingkuh hati. Contohnya ada teman yang bilang “laki gue tidur sama orang lain untuk have fun ya gpp deh, asal hati dan tanggung jawabnya untuk gue, dan itu tidak selingkuh”. Atau ada juga teman yang bilang “dia sering banget selingkuh. Kalo lagi sama gue selalu liat-liatan sama perempuan lain”. Bahkan ada juga teman yang menganggap perselingkuhan terjadi pada saat suaminya bersentuhan fisik (padahal jauh dari aktivitas seksual) dengan perempuan lain. Ada! Dan itu ekstrim. Tapi kalau membicarakan definisi dan batasan “selingkuh” memang akan menjadi pembicaraan panjang kali lebar. Makin gak ada yang mau baca tulisan gue.

(lirik)
Kadangkala
Hati mudah tergoda
Mampukah engkau untuk
Sanggupkah hati untuk
Mampukah engkau untuk menjaganya..

Setia versi lain adalah tetap berada di samping pasangan kita seberapa buruk kondisinya. Ketika pasangan mapan, berpenghasilan tinggi, kaya raya, ganteng/cantik, sehat dan normal pasti bukan suatu usaha yang besar untuk menjaga hubungan dengannya. Tidak ada godaan yang besar untuk meninggalkannya. Tapi gimana kalau pasangan kita jatuh sakit atau lumpuh? Bangkrut? Miskin? Tersandung kasus? Sebut saja alasan-alasan lain yang membuat pasangan kita memburuk kondisinya. Bagaimana, apakah kita bisa bertahan untuk tetap menjadi pasangannya? Dia tidak lagi bisa dipamerkan, dibanggakan, serta diandalkan secara finansial. What are u gonna do, leave him/her? Disitulah kesetiaan diuji. Ok, kalimat gue barusan emang klise kunyuk, tapi memang itu kenyataannya. Memang betul, kita tertarik pada pasangan baik secara fisik maupun emosional pada saat kondisi lagi jaya-jayanya, atau minimal belum buruk lah. Otomatis, ketertarikan fisik maupun emosional sudah pasti menurun seiring dengan kondisi yang berubah menjadi kondisi-yang-sama-sekali-tidak-kita-inginkan-terjadi. Ok, kalau begitu bisa dapet salam manis dari komitmen.

(lirik)
Janji setia tidaklah mudah
Kapan saja pasti banyak rintangannya
Janji setia pasti kan mudah
Bila hanya satu hati yang kau cinta

Ada lagi konteks dari setia. Tetap bersama dia meskipun lingkungan tidak mendukung. Banyak faktor yang menyebabkan keluarga/teman kita tidak suka dengan pasangan. Dari mulai alasan pasangan pernah melakukan kesalahan yang sukar dimaafkan, tidak masuk dalam kriteria yang umum, sampai alasan-alasan cemen kayak suaranya gak enak didenger lah, bau mulut lah, bulu hidung terlalu gondrong, dan lain-lain yang bikin nyesek dengernya karena tidak sepenting apa yang dimiliki diantara kita dengan pasangan. Nah, gue harus mengulang, “apa yang dimiliki diantara kita dengan pasangan”. Hal itu bisa apa saja, termasuk cinta, sayang, nafsu, rasa aman, kebutuhan, keinginan dan sebagainya dan sebagainya. Apakah itu cukup berharga untuk dipertahankan meskipun tidak didukung oleh keluarga/teman? Kita gak bisa menutup mata pake perban terus ditiban kacamata hitam dan kemudian ditempelkan kain tebal, kalau memang rasanya menyenangkan punya hubungan dengan pasangan yang mendapat dukungan penuh dari semuanya seperti Kate-William yang di-support oleh mayoritas warga negaranya. Tapi yang menjalani hubungan tersebut siapa? Yang memperoleh baik-buruknya hubungan tersebut siapa? Yang hatinya telah memilih dan dipilih siapa? Kembali ke kuatnya rasa diantara pasangan itu sendiri, apakah memang sebegitu mudahnya untuk bisa keluar dari hubungan tersebut dan meninggalkan satu sama lain. We decide.

Apapun jenis setia yang telah dijabarkan singkat di atas, kita sebaiknya tahu dan paham betul seberapa berharganya hubungan yang dijalani dengan pasangan, apakah memang patut dipertahankan. Kalo ada lapak dibuka untuk kursus singkat cara setia, mari kita mendaftar dan belajar. Yang jelas bukan gue instrukturnya, karena gue juga masih dalam proses.

Advertisements