Image

This pic was taken 4 years ago while we were love puppies

Baru-baru ini saya pernah menulis pada twitter bahwa apabila di dalam satu social media kita tidak connected sama pasangan sendiri, konten dlm socmed-nya jadi lebih lepas dan gak jaim. Bukan hanya berlaku sama yang masih pacaran, tapi juga yang udah menikah. Minimal bukan jaim, tapi japer; jaga perasaan. Sebenarnya namanya social media ya gitu-gitu aja, pasangan harusnya maklum-maklum aja dengan isi/konten socmed pasangannya. Mau ada tulisan apa kek, foto apa kek, komen apa kek, toh itu socmed dia, wadah dia bersosialisasi. Itu hak individual masing-masing orang. Tapi ya, sebagai orang yang punya pasangan, kalau pasangan kita bisa melihat dan membaca, rasanya jadi kitanya kurang ekspresif gitu, ya gak? Minimal mau curhat tentang kesel sama pasangan atau abis berantem, jadi pikir-pikir dulu tulis apa gak. *lah, emang benernya kagak dicurhatin ke dunia kali woyyy* 🙂

Atau yang paling sering terjadi, misalkan ada status tertentu yang dituliskan pasangan di socmed, atau ada komen tertentu kepada salah satu teman lawan jenis, kita bisa aja nanya kepada pasangan ybs “itu status begitu maksudnya apa? Untuk aku?” atau “itu kok komennya begitu sih, mesra amat” Tuh kan tuh kan tuh kannnnnn….

Nah, atas alasan menghormati-kebebasan-berekspresi-pasangan-di-media-sosial, saya membatasi saling follow-memfollow di socmed dengan pasangan. Suami saya punya akun Path, saya tidak punya; dan apabila nanti saya punya saya masih mempertimbangkan apakah saya mau invite dia sebagai contact. Selain itu, saya punya akun di wordpress, dan dia tidak follow apalagi membaca isi blog saya yang jujur dan kadang penuh kode hahahaha. Memang sih, yang saya rasakan beda dengan waktu dulu dia follow akun Multiply saya (blog saya yang sudah isdet); dulu kalau saya nulis sedih dia pasti nanya “kok kamu gak cerita kalau lagi sedih?” atau “itu fiksi apa beneran?” dsb dsb. Atau twitter dia yang saya follow (sampai sekarang), kadang saya masih suka nanya “eh itu tadi maksud twit kamu apa ya, aku gak ngerti” hihihihi.

Nah, terus baru-baru ini saya lagi blogwalking di wordpress ceritanya. Ada satu akun yang saya curigai, kok gaya tulisan dan foto header-nya terlihat familiar? Saya klik lah webpage tersebut, jeng jeng!! Akun tersembunyi milik suami! (well sebenarnya dia bikin akun ini sebelum jadi suami sih). Ragu-ragu saya bukanya, tapi sudah kadung. Yah, kalau memang menyakitkan hati saya karena ada kejujuran disana ya sudah lah. Apalagi otak, hati, dan jari tidak koordinatif. Saya bukalah semua konten akun tersebut. Betapa terhenyaknya saya, 99% tulisan si pacar (karena masih pacar waktu itu)  adalah menggambarkan saya, perasaan dia ke saya, dan omongan2 saya ke dia baik bagus atau gak. Kenapa saya yakin itu beneran buat saya dan bukan utk orang lain? Karena dituliskan nama saya dan ada foto-foto saya di tulisan tsb 🙂 Butuh waktu sekitar 40 menitan untuk saya baca semua isinya. Rasanya seperti membongkar diary, potongan-potongan kejadian masa lalu mulai bermunculan di pikiran. Ada sedih, ada miris, tapi juga ada senang dan tersanjung. Ternyata dia pernah seromantis itu. Ternyata sebesar itu cinta dia ke saya (semoga masih hehe). Dan, tulisan itu ekspresif, jujur, dan apa adanya. Pasti karena dia tau bahwa saya gak(akan) baca. Yuhu kamu salah, sayang! *joget*

Jadi, bagaimana dengan kamu? Isi socmed pasanganmu dikupas tuntas ga? Hehehe.

Advertisements