Teringat kalimat yang diucapkan oleh penyanyi Indonesia berskala internasional, Anggun, di suatu event kompetisi menyanyi pada saat ia memuji penampilan (terutama baju) si penampil. “Perempuan itu berbusana bukan untuk laki-laki/pasangannya, tapi untuk perempuan lain”.
Disitu saya sempat berpikir sekian detik untuk mencerna maksud kalimatnya.

Pagi ini kalimat tersebut teringat lagi disaat saya berada di depan lemari baju yang terbuka dan bingung karena harus memilih satu diantara sekian pakaian yang tergantung di dalamnya untuk dikenakan. Saya mau kencan? Tidak. Saya mau menggoda pasangan? Tidak *plis deh, pagi2 di hari kerja mau goda2* Tepatnya, saya mau meeting dengan seorang perempuan yang kebetulan artis ternama. Bukan artisnya yang saya underline atau bold, tapi PEREMPUAN-nya.

Saya akui, kalimat Anggun ada benarnya. Saya memilih pakaian terbaik dan bingung-mikir-harus-pakai-yang-mana-dimulai-dari-semalam-sebelumnya itu kalau saya mau pergi sama sesama perempuan. Mungkin karena saya sebagai perempuan, suka menilai penampilan perempuan lain, dari mulai yang keren banget sampai saya kagumi tanpa kedip, atau yang buat saya menoleh beberapa kali karena biasa tapi enak dilihat, sampai dengan mengernyitkan dahi karena tidak sreg dengan cara si orang tersebut berpakaian.

Ya, sebagian besar perempuan suka menjadi semacam fashion police bagi perempuan-perempuan lainnya. Kalau bagus dan menimbulkan ide ya bisa ditiru, kalau bagus tapi gak bisa ditiru karena gak akan cocok ya bisa dinikmati saja, kalau buruk ya selain dicela dalam hati juga jadi berjanji kepada diri sendiri utk ga meniru model berpakaian tsb.

Beda banget lah kalau saya mau pergi dengan pasangan; pakai apapun baju yang penting terlihat cantik, nyaman dan matching (matching bukan berarti baju seragam atau senada dgn pasangan, tp cocok dgn tempat yg akan dituju, event yg akan didatangi, atau sesuai dgn outfit pasangan; tdk overdressed atau sebaliknya). Pergi ma anak lebih beda lagi, saya pilih baju yang gak ribet untuk gendong-gendong bayi, baju yg mudah dibuka untuk menyusui apabila pas dgn jadwalnya, atau baju yang memungkinkan untuk bisa nyaman bergerak dari mulai lari, jongkok, sampai split *lebay.

Kembali lagi ke pagi ini, saya terdiam lama di depan lemari padahal sudah sedari tadi malam saya berniat akan pilih outfit tertentu. Begitu momennya malah bingung lagi, Pas gak ya pakai ini ketemu dia? Pakai stocking atau ga usah? High heels apa flat shoes ya? Tas warna apa, merek apa? Gesper kecil apa besar? Pakai aksesoris atau gak usah? Super ribet binti rempong.

Jadi, kebayang kan cranky-nya saya kalau diajak ketemuan dadakan sama perempuan lain (yang pastinya bukan teman dekat yang biasa ajak ngopi atau ke supermarket)?

note this, ladies

note this, ladies

Advertisements