I must say, Path (user) is intimidating!

————————————————

Gue: lo sibuk apa sih sekarang? (tanya ke teman 1)
Teman 2: lah lo gak tau? Kan ada di path
Teman 1: hehe iya, gue updatenya di path. Jadi gue itu bla bla bla… (baru bercerita)
————————————————
Gue: masa ya si anu tuh begini.. (Share gosip yg baru didapat)
Suami: iya tau, aku liat path-nya
————————————————
Gue: bla bla bla….. (ngobrol pake semangat)
Suami: (scroll sound) (click sound)
Gue: Kamu dengerin aku gak sih?
Suami: Iya, denger… (scroll sound) (click sound)
Gue: Lagi apaan sih?
Suami: ini lagi posting di path
————————————————-
Temen: lo kemaren abis dari X ya ketemu sama si anu
Gue: hah kok tau?
Temen: dari path-nya dia (si anu)
————————————————–

Dialog2 diatas seringkali (bukan bbrp kali lagi) saya alami sejak socmed model Path mencuat dan populer. Sebut saya kuper atau anti mainstream atau hipster sekalian, tapi setelah Friendster dan Facebook, saya tidak tertarik untuk join Path. Cupu? Ya biar aja, toh saya memang tidak into that kind of social media. Nah masalahnya sama aja dengan era friendster dan facebook; bahwa saya merasa terganggu dgn orang-orang yang LEBIH memilih berkomunikasi, berkorespondensi, saling update, bahkan diskusi ringan di Path dibanding cara-komunikasi-manual-yang-tidak-perlu-melibatkan-ruang-publik. Kalau itu dianggap derita saya karena gak ngikutin apa yang menjadi trend terkini sehingga jd tertinggal, berarti intimidatif sekali namanya. Bahkan ada beberapa yang sok-sok mempromosikan Path ke saya, bilang “Path itu lebih personal, jadi cuma temen-temen terdekat aja, terus ringkes banget gak pake ribet”. Semakin dipromosikan semakin saya tegas menolak hahaha. Boleh sih boleh menjagokan apa yang diikuti, diminati dan disenangi, tapi juga hargain orang yang enggak dong.

Baru inget kejadian beberapa waktu lalu, saya ketemu 2 teman yang sudah lama tidak ketemu. Selama pertemuan, saya lebih banyak diam karena mereka berdua sibuk komentarin foto-foto/tulisan-tulisan yang mereka posting satu sama lain di Path. Dan mereka membahasnya seolah-olah saya mengerti apa yang mereka bicarakan. Ketika reda, saya tanya, “kalian tadi sebenarnya ngobrol apa sih?” sengaja saya nanya begini biar gubrak sekalian. Instead of mereka ngetawain saya sekalian atau rela mengulang cerita dengan versi lebih lengkap, mereka malah senyum aja dan bilang “ya ada lah.. di Path waktu itu”. Selesai. Gitu doang. Could you be more senseless, fellas?

—————————————–

PS: Tapi sebenarnya saya sempat menyesal tidak punya Facebook account karena untuk beberapa keperluan kompetisi atau lomba atau sekedar kuis ringan, kadangkala persyaratannya wajib mencantumkan Facebook account *bah! (emang apa sih alasannya?!?!) Nah, semoga aja akun Path tidak dijadikan persyaratan untuk ikut kompetisi, lomba ataupun kuis. Bisa semakin terintimidasi!

 

 

Advertisements