Tulisan ini tercipta gara2 saya transaksi lama di bank hari ini, terutama di bagian customer service. Ngeliat simbak cekatan banget ngurusin dokumen dan permitaan saya, serta jari-jarinya lincah mengetik tanpa matanya melihat ke monitor, otomatis kepikir “kayaknya enak ya kerjanya begitu…” otomatis kepikir beberapa cita-cita saya sedari kecil hanya karena asumsi “enak ya…”

image

1. Sekretaris
Dulu waktu saya kecil (kelas 2-3 SD) saya sering diajak eyang kakung saya untuk ikut ke kantornya setelah pulang sekolah. Jadi eyang saya makan siang di rumah, jemput saya di sekolah lalu kembali ke kantor dengan mrngajak saya. Di kantornya saya pertama kali mengenal sosok “tante Dewi” si sekretaris. Selain di kantor itu dia paling cantik karena yang lain bapak-bapak semua, juga tante Dewi yang paling ngemong saya kalo eyang lagi sibuk kerja atau meeting. Saya bukanlah anak kecil pengganggu, saya suka bawa buku/majalah sendiri dan baca di pojok ruangan, atau ngiterin kantor dan ngobrol2 sama om personalia, om bendahara, dan om direktur (!) Hehe.. *bingung kan eyang saya kerja apa dimana* Nah, tapi most of the time saya duduk di samping kursi tante Dewi dan melihat dia bekerja. Saya kagum sama kerjaan yang dilakukan tante Dewi. Menelepon, mencatat apalah itu, mengetik apalah itu, mengantarkan dokumen ke orang2, meminta tanda tangan orang2, dan sesekali berdandan kalau mau sambut tamu. Saat itulah saya berpikir untuk menjadi sekretaris.

2. Guru
Serius deh, masa SD itu emang gak ada jeleknya, semua indah. Sampe guru baek maupun guru killer itu saya suka. Apa sebab? Karena saya selalu dapat rengking 1 atau 2 (pernah sih rengking 4 huhu), jadi saya dikenal dan disukai semua guru. Otomatis saya pun jadi mengagumi cara mengajar setiap guru. Guru agama yang ter-favorit waktu itu karena selain dia lucu dan enak dalam menyampaikan ajaran agama, dia juga melakukan rutinitas setiap jam pelajaran hampir berakhir, yaitu 15 menit terakhir menjelang bel pergantian pelajaran dia pasti menceritakan cerita rakyat atau legenda apa saja secara bersambung. Jadi kami selalu menanti2 dia kembali mengajar di hari2 setelahnya dan tidak ada yang malas utuk melewatkan pelajaran hingga selesai. Alm. Pak Ahmad Dasuki (pak Uki) adalah nama beliau. Cara pendekatan dan bimbingan beliaulah yang membuat saya ingin menjadi guru yang disayangi dan disegani murid2nya. Sepulang sekolah saya pasti punya dunia sendiri (khayalan) kalau saya sedang di depan kelas mengajar murid2 saya, dan saya punya murid2 imajiner yang saya kasih buku dan tugas, dan saya nilai ‘mereka’ semua. *Hehe kasian ye gue wkt kecil main dan ngomong sendiri*

3. Dokter
Saya rasa jaman saya kecil setiap kita ditanya ‘kalau besar mau jadi apa’, 80% anak menjawab mau jadi dokter. Kayajnya semasa periode tersebut, profesi dokter itu profesi nomor 1, karena mulia, penolong, pintar, dan… kaya (hehe). Jadi lah, ibu saya seperti mengarahkan saya untum sekolah yang pjnter belajar yang rajin biar bisa jadi dokter. Saking adanya doktrinasi tersebut(padahal sumpah saya paling tegang dan jiper kalau lg visit ke dokter), saya menjadi mencari tahu lebih banyak tentang profesi tersebut, dari mulai harus sekolah apa, ambil bagian apa, sampai saya tahu cara mapras/ospek bagi mahasiswa 2 kedokteran. Saya pun kemudian mengikuti program Dokter Kecil di sekolah saya yang kemudian terdaftar di seluruh Indonesia. Untuk mendapatkan sertifikat, kami para dokter kecil harus mengikuti ujian kelulusan lah kira2, dan sayapun belajar dengan tekun semua diktatnya, sampe hari H pun saya bisa ,menjawab semua pertanyaan dengan baik;sehingga saya dapat predikat memuaskan dari penyelenggara. Sayang, seberapapun nilai biologi saya pas sma bagus, saya menjadi hilang minat untuk menjadi dokter huhu.

4. Penyanyi
Saya dulu adalah dirigen (bukan jirigen yaa), untuk memimpin kelompok alat musik sekolah saya yang selalu mengikuti lomba melawan sekolah lain. Saya memang bukan satu2nya dirigen, tapi saya dianggap yang paling luwes memimpin kelompok dengan aturan birama saya, kata si pak guru musik yang merupakan pelatih kami. Suatu hari, si penyanyi (teman sekelompok) tidak masuk, sementara kita harus rehearse karena mau isi acara apa gitu. Pas si pak guru sedang mendata ulang muridnya yang kira2 bisa nyanyi dengan baik, saya yang sedang berada di depan dan merasa bosan pun mulai ambil mic dan berdendang dengan humming salah satu lagu latihan. Lama kelamaan si pak guru menyuruh saya mengulang menyanyi, kali itu hrs lebih lantang terdengar oleh semua. Saya gak nyangka, selesai saya menyanyi saya langsung didaulat jadi penyanyi pengganti selama penyanyi utama sakit. Akhirnya pas pertunjukkan saya pun tampil sebagai penyanyi yang berdiri di samping dirigen, hehe. Sumpah deh, dari situ saya pingin banget jadi penyanyi dan tampil perform di depan orang banyak. Sayang, skill saya gak nambah2 lagi hahaha.

5. Istri tentara
Saya nulisnya aja sambil ketawa ngakak nih, saking malunya. Saya mengidolakan eyang kakung saya yang pensiunan tentara, lalu sering lah bertemu beberapa ajudan2 yang muda dan gagah. Si Vina kecil yang centil seneng banget liat cowok2 berseragam tentara, terpukau bener lah pokoknya (cuih). Apalagi tontonan eyan saya dan saya adalah film ttg perang dunia, jadilah makin terpikir untuk punya cita2 bersuamikan tentara yang badannya tinggi gede kuat panglima perang *lirik suami yang (mem)buncit hahaha*

Kalo sekarang saya inget2 lagi, saya geli sendiri, entah faktor apa aja yang bikin saya gak meneruskan cita2 sampai besar. Yang jelas tidak pernah terpikirkan sedikitpun saya akan jadi pengacara seperti sekarang ini, gak masuk hitungan cita2 keren anak kecil hahaha.

Sekarang sih enak ya, ada fasilitas Kidzania, dimana anak2 kecil bisa menjajal dulu beberapa profesi yang sekiranya mereka akan senangi, sehingga lebih ada gambaran banyak tentang cita2 yang mereka inginkan sedari kecil.

Nah, kalian punya cita2 apa aja nih?

Advertisements