Sebagai emak2 yang bekerja, saya harus mengikhlaskan dan berserah diri pada pengasuhan suster atau babysitter atas Denyar selama saya ke kantor. Panjang lah kalo saya harus menuliskan dilema batin ibu2 bekerja yang harus percaya dalam menitipkan anak sendiri sebagai harta yang tidak ternilai harganya kepada orang lain yang tidak ada hubungan keluarga. Tulisan ini bukan tentang hal itu.  

Sejak Denyar berusia 18 hari, kami dibantu oleh suster dari yayasan, yang kebetulan hampir memenuhi ekspektasi semua ibu2: dia dewasa, sudah berumur, pengalaman kerja sebagai suster selama 10 tahun, janda (jadi ga sering minta cuti), rumahnya di Bogor (jadi cutinya gak jauh dan lama), dan ngemong sama anak kecil. Bisa dibilang semua anggota keluarga saya (suami, ibu, eyang, tante, om dll) seneng sama dia dan wanti2 saya berkali-kali: “(dia) jangan sampai keluar ya, pertahanin!” Alhasil saya pun sering menjaga sikap agar gak terlalu keras sama dia, memenuhi kebutuhannya dengan baik, gak pernah telat bayar gajinya, selalu kasih cuti sesuai permintaan, dan sering ajak dia jalan2 biar seneng.  

Tapi eh tapi, saya kan orangnya emang curigaan ya, susah percaya orang, jadilah saya bisa smell somehing fishy about her. Dari mulai mulutnya tuh (ke)manis(an), tapi kok asisten2 rumah tangga saya banyak yang gak cocok ya sama dia, bahkan yang terakhir sampe nangis2 karena berantem sama si suster. Selain itu saya kurang suka sama cara dia posesif sama Denyar. Saya susah banget mau pegang sendiri Denyar. Kalau saya mau pergi bawa Denyar tanpa ajak dia, dia bisa loh bilang “Denyar disini aja dong nemenin suster.. Kan suster sepi..” (lah emak-bapaknya jarang ketemu dia kali, cong). Terus dia suka milih2 makanan, ini gak suka itu ga doyan, alhasil saya dan suami harus masak menu yang berbeda2 supaya dia bisa makan, karena kalo dia ga mau makan menu yg dia ga suka, kan dia bisa sakit dan jdnya bisa nularin Denyar, malah berabe. Nah, selain itu, dia merasa dirinya selalu paling tahu yang terbaik untuk anak SAYA, jadi kadang sulit diatur, kalo salah juga susah banget bilang minta maaf. Mungkin merasa dia jauh lebih tua dari saya dan Lut, jadi ya dia gengsi. Hal yang paling ganggu sebenarnya adalah dia sering banget cium2in Denyar. SETIAP HARI SETIAP WAKTU. Saya awalnya gak ngeh, yang ngeh si Lut, katanya kok risih ya, kita cium anak kita lebih jarang drpd susternya yg bs cium setiap waktu. Lut jg bilang “aku jd males cium Denyar kalo udah ada bekas dicium dia”. Akhirnya kami pun nemu cara untuk bilang baik2 ke suster kalau kami mau mengajarkan Denyar untuk gak sembarang nyium dan dicium orang yang bukan bubu-ayahnya dan keluarga dekatnya. Eh tetep aja loh dia nyolong2 cium, ke-gap beberapa kali. Itu sinyal dia gak mau patuhin permintaan kami. Lut udah makin kesel.  

Lalu singkat cerita, dia pulang kampung utk Lebaran kemarin. Ibunya kebetulan sakit jadi minta ijin pulangnya agak molor, tapi yang saya gak terima adalah dia tiba2 sms saya dari kampung mendekati hari kepulangan dia dan blg “bu, saya gak balik lagi kerja sama ibu, saya mau rawat ibu saya aja di kampung, semoga ibu cepet dapet ganti”. Kalang kabut dong saya, tapi saya jg gak bisa apa2 karena alasannya adlah ibunya sakit. Eh tapi yang kurang ajarnya, dia gak bisa lagi dihubungin di nomer itu semenjak sms terakhirnya, tapi dia bisa sms-an sama ART saya dengan nomor baru dan bilang dia mau kerja sama majikan lamanya aja. Kancut!  

Saya pun lalu cari sana-sini pengganti si suster. Sempet saya harus perpanjang cuti saya karena si pengasuh baru belum sampai dari kampung dan Denyar gak mungkin saya titipkan di rumah ibu saya tanpa bala bantuan siapapun. Akhirnya saya pun mendapatkan seorang adek2 (saking mudanya, 21 tahun). Dia bukan seorang suster, tidak pernah urus bayi, hanya pernah asuh anak umur 2 tahun, tidak talkative, kurang oke penampilannya, lugu dan kurang peka dalam urus anak kecil. Tapi karena saya dan Lut butuh pengasuh dan kami tidak mungkin memperpanjang cuti, maka kami pun hire dia sebagai pengganti suster, dengan catatan dia harus dididik dengan bener2 sampai bisa. Standar penilaiannya jelas kami gak bisa samakan dengan standar si suster waktu itu. Trial and error si adekmbak ini masih banyak banget.  

Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Dia mau belajar, kemauannya keras untuk bisa urus Denyar dan bikin Denyar mau get along dengan dia, dia latian terus untuk perbaiki kesalahan, dan memaksakan diri utk menjadi talkative. Dia patuh sama peraturan dari saya dan Lut, dan tidak suka berselisih paham sama asisten yang di rumah. Disinilah standar penilaian saya dan Lut mulai berubah. Kami lebih memilih mempertahankan orang seperti si adekmbak yang masih bisa dibentuk, dididik dan diarahkan daripada mempekerjakan kembali si suster yang susah diatur, punya banyak hidden agenda, dan posesif.  

Insyaallah dengan siapapun Denyar diasuh dan dijaga, dia selalu dalam perlindungan Tuhan, tumbuh dan berkembang dengan baik, serta sehat dan bahagia. Bagaimanapun juga, orang tua yang akan bertanggung jawab atas perkembangan si anak nantinya, bukan tanggug jawab si pengasuh. Semoga saya dan Lut layak dan mampu membesarkan dan menjaga dia dengan baik dan benar, amin.
Tuh kan jd berkaca-kaca mata ini….  

image

Si anak kecil yang lagi anteng dan manis dalem taxi

PS: Temen saya punya sebutan baru untuk si adekmbak ini, yaitu buster, kepanjangan dari babu suster. Dodol emang!! Hahaha

Advertisements