Dari mulai saya dapat undangan untuk menghadiri pernikahan sahabat di Bali, saya mulai berpikir keras bagaimana meninggalkan Denyar di rumah hanya dengan ayahnya. ‘Kenapa tidak dibawa aja?’ itu adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang ke saya pada saat saya sampaikan niat kepergian saya. Alasan saya adalah lebih karena acara pernikahan ini akan makan waktu berjam-jam, dari sore sampai malam buta di outdoor area. Malam hari, angin pantai, pesta penuh orang, cukup beralasan utk menjadi bijak dengan tidak bawa Denyar. Untunglah Lut juga cukup bijak untuk merestui istrinya pergi sendirian, dan percaya bahwa istrinya ini tidak akan aneh2 hehe.  

image

Ini sahabat yang mau kewongggg

Beberapa hari sebelum berangkat saya baru pesan tiket dan reservasi hotel serta rental mobil. Kalau bukan sahabat yang nikah, saya malas dan berat sekali pergi ke Bali sendirian. Dulu waktu lajang, ninggalin pacar berhari-hari santai aja, palimg cumankangen menggila. Tapi ini pertama kalinya dalam hidup saya ninggalin Denyar sampai ganti hari alias nginep. Sedih kalo inget saya gak akan tidur sama dia, nyusuin dia, main dan ajak dia komunikasi. Tapi justru kuncinya adalah gak boleh sedih, gak boleh berat, dan gak boleh kepikiran berlebihan saat jauh. Itu pe-er berat untuk saya.  

Selain mental, saya mempersiapkan diri saya pergi salah satunya adalah mencari informasi aturan penerbangan yang membolehkan saya membawa cairan lebih dari 100cc, yaitu asi perah. Saya bawa2alat pompa, ice gel dan box-nya, dan plastik asi. Maklum, saya masih membiasakan  memaksakan diri untuk terus memompa asi meskipun Denyar sudah makan dan sudah berumur diatas 1 tahun. Jadi dengan ukuran travel bag seadanya, saya merelakan mengeluarkan alat catok rambut demi bisa muat memasukkan alat pompa dan kerabatnya ke dalam tas hehe.  

Kalau mempersiapkan Denyar, saya kolaborasi dengan ayahnya dan buster untuk mempersiapkam segala sesuatu selama saya gak ada. Saya mempersiapkan asi perah lebih banyak untuk diminum siang dan dini hari. Saya tinggalin baju bekas saya pakai sehari semalam sebelumnya untuk dijadiin selimut sama Denyar (petuah orang tua jaman dulu kalo lagi ninggalin anak). Sayang, baju Denyar malah saya lupa bawa untuk saya endus2 ketika jauh huhu. Selain itu, saya mengulang2 kalimat pamit kepada Denyar, “Nyar, bubu mau pergi ya nanti hari Sabtu, Denyar tidur bedua sama ayah ya, minum susu sama mbak ya, makan yang pinter, sehat terus, kita ketemu lagi hari Minggu.” terus saya ulang-ulang, entahlah dia mengerti atau gak.  

image

Pas tidur dibisikin ucapan pamit

Kemareni malam, tumben2an jam 12 malem dia kebangun dan nangis kejer. Dikasih susu gak mau, saya pikir sakit perut dan mau pupu ternyata eggak, saya nyalain lampu supaya terlihat ada apa juga ga ada apa2 yg aneh terlihat. Saya sampai panik dan takut. Kata Lut mungkin Denyar mimpi buruk. Akhirnya saya pun peluk dia, dan dia pun diem dan tidr lagi. Dalam hati saya membatin, apa dia tau ibumya mau pergi trus jadi pingin dipelukin. Akhirnya kami pun berpelukan sampai pagi.  

Denyar, ini bukan terakhir kalinya Bu pergi ninggalin kamu; masih akan ada saat2 lain sesudah ini. Kamu akan belajar untuk jauh secara fisik dari Bu, tapi harus kamu tahu dan ingat bahwa hati kita gak akan pernah berjarak.  
Take care, my pao baby.

image

Penumpang semi narsis

image

Foto yang dikirim Lut baru aja: makan sambil manyun :')

*tulisan ini sebenarnya ditulis kemarin tapi karena signal bermasalah ya assalamualaikumwarohmatullohiwabarokatuh deh…

Advertisements