Teringat samar2 pelajaran agama waktu kecil dulu. Saya lupa tepatnya siapa bertanya pada siapa, nabi kepada Tuhan atau bagaimana. Tapi saya ingat sekali isi percakapan dan pesan moralnya.
“Siapa yg paling utama harus aku hormati dan sayangi ?”
“Ibumu”
“Kemudian siapa?”
“Ibumu”
“Lalu habis itu?”
“Ibumu”
“Setelah itu?”
“Ayahmu”

Tidak ada kesalahan dalam jawaban tersebut; ibu memang seyogyanya harus disayang lebih besar drpd ayah. Dengan kata lain, cinta kepada ayah harus besar, namun kepada ibu harus luar biasa berkali lipat lebih besar.

Saya kebetulan sejak batita tinggal bersama ibu saya dan tidak dengan bapak saya, sehingga pesan tersebut dapat dengan mudah saya pahami. Alasannya pada waktu itu saya tidak terlalu begitu mengenal bapak dan tidak terbiasa menyayangi beliau. Jadi lah otomatis rasa cinta saya ke ibu jauh lebih besar porsinya drpd bapak.

Tetapi ternyata, semenjak menjadi ibu bagi Denyar, saya semakin mengerti maksud dari percakapan di awal tulisan di atas dan isi pesannya.
When you have a child, u learn that there’s one space in your heart that you never knew existed.

image

Big hug

Saya baru menyadari ternyata saya mencintai anak saya jauh dari saya mencintai diri saya sendiri.
Saya belajar sayang padanya sejak dia masih tumbuh dan berkembang dalam perut saya, seberapapun beratnya tubuh saya yg harus saya gerakkan kemana-mana.
Saya mengambil risiko atas nyawa ketika melahirkan dia dengan prosesi natural, seberapapun sakitnya kontraksi, susahnya mengejan dengan benar, dan pedihnya dijahit di jalan lahir.
Saya bersedia menyusuinya setiap 1-2 jam sekali dan memompa payudara yang bengkak, seberapapun lelahnya dan lemasnya tubuh saya.
Saya rela tidak tidur semalaman ketika ia sedang rewel akibat panas tinggi atau hidung tersumbat, seberapapun padatnya aktivitas saya keesokan harinya.
Saya kuat menggendong tubuhnya yang tertidur pulas sepanjang perjalanan, seberapapun ngilunya otot dan kebasnya lengan saya.
..dan masih ada kondisi-kondisi lain yang saya lakukan tanpa memprioritaskan kepentingan saya.
Ibu saya pun pernah berada di posisi saya saat ini dan kemarin, kurang dan lebihnya.

Sehingga, daripada saya bersiap-siap menasihati Denyar, saya lebih baik introspeksi diri sendiri dulu untuk dapat lebih mencintai, menghargai, menghormati, menyayangi dan menjaga ibu saya sebaik-baiknya.

Semoga ibu saya-Ibu Herdiennariati- selalu diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa.

PS: jadi teringat ketika saya dulu menjadi pemberontak dan selalu menentang ibu, eyang putri saya kerap menghardik saya keras dgn kalimat, “kamu tau gak, dulu IBU-mu susah payah mengeluarkan kepalamu, sekarang kepalamu jadi besar begini (baca:besar kepala), anak gak tau terima kasih!”
Saat itu, saya tidak menangkap pesan itu dengan baik. Shame on me.

Advertisements