Sudah lama sekali gak nulis di WordPress. Bingung apa yang mau ditulis
duluan saking banyaknya updates. Tapi kali ini saya memilih kejadian
nyata akhir-akhir ini aja dulu.

image

Sejak beberapa bulan terakhir, saya ‘memelihara’ kodok-kodok tanpa
sengaja. Hal ini bisa terjadi karena salah satu kamar mandi rumah
berada di belakang, dekat dengan outdoor area. Sejak musim hujan
banyak sekali kodok-kodok bermunculan, di carport depan maupun di
outdoor area belakang. Piyik-piyik, sampai saya serem sendiri, takut
gak sengaja terinjak saking kecilnya. Sudah diusir-usirin tapi tetap
kembali berloncat-loncatan di dua area tersebut.

Akhirnya, ada dua kodok kecil yang tergolong rajin sekali ‘bertamu’ ke
dalam kamar mandi. Sudah diusir keluar kamar mandi, tetap saja
keesokannya datang lagi dan bermain di lantai kamar mandi. Pada
akhirnya saya diamkan saja apabila saya sedang berada di dalam. Toh,
mereka tidak meloncat ke arah saya; melainkan hanya meloncat2 santai
di balik apapun yang aman untuk mereka bersembunyi. Saya lantas
memberikan nama pada mereka, Frogo dan Doki-Doki. Frogo untuk si kodok
yang badannya lebih besar namun lebih aktif, melompat kesana kemari.
Sementara Doki-Doki untuk si kodok yang lebih anteng dan senang berada
di pojokan dan jarang bergerak.

Kalau dulu setiap saya mau masuk kamar mandi itu saya melongok-longok
ke atas (langit-langit) untuk memastikan tidak ada cicak (yes, saya
takut cicak dan tidak akan masuk kamar mandi kalau cicak di dalam
belum diusir keluar), kali ini saya melongok-longok ke bawah (ubin)
untuk memastikan tidak ada Frogo dan Doki-Doki yang sedang bermain
sehingga tidak terinjak oleh saya. Bahkan, saya kerap kali ‘menyapa’
mereka kalau kebetulan mereka sedang terlihat bermain di dekat saya.
Intinya, I care about those frogs.

Semakin hari ‘peliharaan’ saya itu semakin besar. Dengan badan yang
nanggung, mereka jadi tidak bisa sembunyi, jadi mudah sekali diusir
keluar kamar mandi oleh asisten rumah tangga (meskipun pada akhirnya
mereka main lagi ke dalam). Di satu malam, saya mau mandi, menemukan
si Frogo sedang nemplok di dinding. Bukan melompat, tapi merayap
dengan kaki kanan-kiri menuju ke atas. Posisinya di tengah2 antara dua
dinding, sehingga memudahkan kaki kecilnya merayap naik (susah sih
jelasinnya, gak saya foto). Saya pun mulai takut karena kalau semakin
tinggi nanti dia malah bisa melompat ke tubuh saya (sesayang apapun
sama binatang itu, tetap saya lebih memilih menghindari bersinggungan
fisik dengan mereka). Akhirnya saya minta Lut untuk ‘menurunkan’ nya
dari dinding. Dia pun kembali berada di lantai, bersama Doki-Doki yang
masih saja sukanya ngumpet di balik tempat sampah.

Tampaknya, Frogo melakukan lagi aksinya di sisa malam tersebut. Entah
bagaimana awal dan prosesnya, yang jelas keesokan paginya, Lut lapor
ke saya kalau dia menemukan Frogo (dia tidak memberikan nama, hanya
bilang “salah satu kodok”) mati di dasar bak mandi. Saya pikir gak
mungkin banget kodok bisa mati di air, mereka kan mahluk air. Saya
tanya lagi untuk pastikan bahwa suami saya hanya berasumsi dia mati.
Lut bilang “Sudah dicek, tidak bergerak, kaku dan mati. Aku udah
buang”. Saya pun ke kamar mandi untuk mencari Doki-Doki. Dia gak ada
di sudut manapun dia biasa bersembunyi. Saya yakin nanti malam saya
akan bertemu Doki-Doki, seperti biasanya.

Sudah 4 hari 4 malam semenjak kematian Frogo, saya tidak sekalipun
bertemu atau menemukan Doki-Doki di dalam kamar mandi. Saya lantas
berasumsi, kalau Doki-Doki pasti tahu Frogo mati, lantas Doki-Doki
memilih untuk menjauh dari tempat itu dan tidak kembali lagi. Either
takut mati juga, atau sedih ditinggal Frogo mati. Saya pun jadi merasa
sedih.

Semoga Doki-Doki baik-baik aja di dunia luar (luar kamar mandi saya),
dan lantas menemukan teman bermain baru pengganti Frogo.

Advertisements