Dari dulu saya tidak pernah antar seseorang ke kamar operasi. Malah saya yang punya pengalaman diantar, pertama kali diantar ibu saya pas mau biopsi ginjal waktu saya masih SMA, dan kedua kali ditemani suami saya ketika saya mau bersalin.
Saya tidak pernah tahu rasanya mengantarkan, menunggu proses selesai dengan cemas, dan merasa ingin segera bertemu orang yang di dalam sana.
Sampai dengan hari ini.

Lut baru beberapa menit lalu saya antar ke kamar operasi. Dari mulai dia pakai piyama pasien aja saya udah mellow, apalagi pas dia dijemput pake kursi roda dan berganti pakaian khusus operasi. Saya menahan diri untuk gak nangis. Tadinya saya berniat untuk ngomong panjang lebar sebelum dia didorong masuk, mungkin biar lebih dramatis pakai tangis. Tapi karena petugas sudah on time, dan saya cuma dikasih kesempatan sekian detik untuk berpamitan sblm berpisah, saya pun cuma sempat bilang “sampai nanti ya”. Dan Lut pun menjawab “iya”. Sing-kat. Tanpa drama tanpa air mata.

image

Setelah dia msuk baru dada saya bergetar hebat. Kalimat2 ‘what if’ berkecamuk semua di kepala… langsung lah saya mewek di ruang tunggu operasi. Saya bahkan nangis karena belum sempat bilang ‘I love you’. Saya takut namun saya pasrah.

Saya hanya berharap penantian saya tidak akan lama. Operasi berjalan dgn baik, dan Lut segera siuman.

Saya mau jadi orang yang bilang padanya ketika dia melek, “what took you so long?!”

~RSPP, 10 Mei 2014~

Advertisements