Judulnya cukup cynical ya? Hahaha sengaja.

Pernahkah kamu merasa klop banget sama seseorang atau beberapa orang, di masa-masa lalu – even kamu consider mereka adalah teman dekat atau sahabat kamu? Ya, pasti pernah. Ada masa dimana kamu mau pindah kerja, dan teman dekat kamu di kantor yang sama pun bilang “kontak-kontak terus ya, jangan sombong”. Lalu kamu pun jawab “iya, gue pasti kontak elu, gak akan kemana-mana”. Lalu bulanan dan tahunan berlalu, pesan ulang tahun saja tidak saling terkirim.

Ada masa dimana kamu atau teman kamu mau menikah, lalu kalian pun berucap “ketemuan-ketemuan dong ya meski udah nikah nanti!” dan dijawab dengan “iya lah pasti kita ketemuan nanti!” Lalu sejak kelahiran anak pertama maupun selanjutnya tidak kunjung ada pertemuan.

Yang paling sering adalah ketika kamu atau teman kamu akan pindah ke luar kota atau luar negeri. Terjadi percakapan “gue akan kangen banget sama lo, nanti lo kabarin gue ya kalo main-main kesana” dan dijawab dengan “belom-belom gue udah kangen sama lo, kabar-kabarin gue kalau pulang kesini”. Lalu nomer ponsel pun berubah, dan tidak ada yang mengirim kabar melalui email.

Ya, saya mengalami itu, berkali-kali. Saya pikir dia, mereka, adalah teman-teman dekat saya, yang gak akan putus hubungan dan komunikasi, yang akan selalu berteman sampai tua. Nyatanya, kita gak akan pernah bisa rely on some friendships. Cuma segelintir teman yang masih sering kontak dan memberikan updates (thanks to Whatsapp group dan socmed), tapi ya banyak banget ‘teman-teman dekat’ yang ‘hilang’. Yang terjadi adalah seleksi masa.

Butuh lebih dari “hai apa kabar sekarang?” “ketemuan dong yuk!” yang dikirim setahun sekali atau beberapa bulan sekali untuk bertahan dalam penyeleksian teman.  Butuh lebih dari “selamat hari raya!” atau “selamat ulang tahun!” untuk bisa tetap jadi inner circle seorang teman. Inner circle bisa dibilang adalah kumpulan teman yang akan selalu dihubungi untuk ketemuan berkala, yang akan selalu diajak liburan bareng, yang akan selalu di-tag di postingan social media, yang akan diturutsertakan dalam list undangan kawinan.

Baru-baru ini ngobrol dengan seorang teman-yang-dulunya-dekat-banget, yang kebetulan mau nikah. Dia jujur bilang kalau dia gak akan undang saya, hanya karena undangan terbatas, ditambah dia bilang “saya hanya undang teman-teman yang sering ngobrol di group aja”. Memang, kita udah gak ngobrol lebih dari setahun. Saya pun gak kenal calon suaminya. Jadi sangat bisa dipahami kalau saya sudah bukan bagian dari inner circle si teman. Hubungan kami sekarang cuma sebatas saling mem-follow socmed masing-masing.

Gak usah besar kepala kalau kamu sering menginap di rumahnya atau sebaliknya. Gak usah kepedean kalau kamu sering  dipakai namanya untuk dia berbohong sama orang tuanya. Gak usah terlalu yakin kalau kamu adalah orang yang dia hubungi untuk menunggu hasil alat tes kehamilan. Hal-hal tersebut tidak akan otomatis menjadikan namamu sebagai nama teman sejati yang akan selalu berada dalam setiap fase hidup seseorang tersebut. Mereka akan menyeleksi kamu. Mereka akan mencoret namamu. Mereka akan melupakan kamu. Sesuai masa.

 

 

Advertisements