IMG_5681

Saya tidak akan membahas polemik tentang perizinan Uber dan Grab sebagai penyedia jasa pengangkutan darat, saya cuma mau bahas yang ringan-ringan aja, yakni kepribadian dan attitude supir/pengemudi Uber dan Grab.

Sejak mereka hadir, saya lebih sering menggunakan jasa mereka (plus Gojek kalau mau naik motor supaya ringkes dan instan atau pesan antar makanan), dibanding jasa angkutan taksi. Harga lebih reasonable dan jauh bedanya sama taksi-taksi manapun (emak-emak hemat mah pasti pilih yang lebih murah).

Saya perhatikan para pengemudi semakin kesini semakin pintar dalam memahami jalan yang dilalui atau tujuan yang dituju. Mereka memanfaatkan dengan baik fasilitas smartphone yang diberikan, sehingga saya sebagai penumpang tahu beres, dijemput di tempat janjian, duduk manis, kasih info rinci lokasi yang dituju, dan sampai deh ke tempat tujuan. Mereka pun cukup bisa membaca situasi; kalau kita sebagai penumpang terlihat tidak ingin mengobrol, mereka pun tidak memulai percakapan panjang.

Seringkali saya kepingin mengobrol, jadilah saya pun mengobrol dengan para pengemudi yang mengantarkan saya. 8 dari 10 pengemudi yang saya ajak ngobrol, mereka adalah sosok orang yang ‘tadinya bukan supir’. Mereka semua cerita hal-hal yang saya pun jadi sering dengar akhir-akhir ini. Ada yang mencari kerja sampingan dengan menjadi supir Uber/Grab, ada yang berhenti kerja jadi karyawan swasta karena hasil yang diperoleh menjadi supir Uber/Grab lebih besar daripada gaji bulanannya, ada yang niat beli mobil dengan cicilan ringan demi menjadi supir Uber/Grab dan sudah terasa hasilnya padahal baru beberapa lama bergabung, ada yang iseng-iseng karena mencari pengalaman dan senang menyetir, ada yang shift-shift-an sama rekannya demi mendapatkan hasil maksimal dari mengantarkan penumpang.

Baru-baru ini saya diantar oleh seorang pengemudi muda, wangi, ganteng, pintar, wawasan luas, dan sopan. Ketika saya tanya tempat tinggalnya, dia bilang di Pondok Indah, Jakarta Selatan, masih tinggal dengan orang tua. Singkat cerita, ternyata dia tetangganya teman saya yang rumahnya di area Pondok Indah juga, dan orang tuanya si pengemudi tersebut adalah orang yang berada (iya lah, wong rumahnya di Pondok Indah!).

Persamaan mereka semua adalah mereka tidak malu dengan pekerjaan mereka sebagai supir. Lebih tepatnya, mereka tidak malu menceritakannya pada saya dan/atau penumpang mereka lainnya. Malahan, mereka terdengar bangga.  Saya pun menjadi semakin respect dengan mereka.

Salah satu supir yang saya tumpangi bercerita, bahwa ia pernah tersinggung oleh seorang penumpang yang waktu itu ia jemput di mall. Ceritanya, si penumpang itu minta dijemput di lobby mall Aeon – BSD. Karena mall tersebut adalah mall yang baru dan sangat digandrungi orang-orang setiap weekend, jadi lah jalanan menuju kesana sangat macet. Si pak supir pun sampai di lobby agak lama. Begitu pak supir datang, si penumpang yang merupakan ibu-ibu dengan anak balita dan seorang babysitter, lengkap dengan stroller dan belanjaan yang banyak, membuka salam dengan mencak-mencak. “Lama amat sih pak! Capek saya nunggunya!” kurang lebih begitu. Lantas menyuruh si supir “bawain stroller anak saya ke bagasi!” “belanjaan saya masukin ke dalam!” dan seterusnya memerintah dengan galak. Baru puluhan meter si supir mengemudi, si ibu pun marah-marah lagi dengan alasan panas menunggu di lobby, dan sebagainya dan sebagainya. Si supir pun terpancing emosi, dan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan serta membuka kunci pintu, dan mempersilakan si ibu dan pengikut serta barang2nya segambreng untuk turun. Si ibu pun kaget karena gak nyangka si supir ‘melawan’. Pak supir pun bilang “kalau ibu tidak bisa menghargai saya yang sudah menembus kemacetan dan  menjemput ibu, sebaiknya ibu turun dan mencari mobil atau tumpangan lain. Saya bukan supir pribadi ibu, jadi ibu tidak bisa semena-mena mengomeli saya atau menyuruh-nyuruh saya seperti tadi”. Si ibu pun terdiam, dan akhirnya meminta maaf. Ia memilih untuk tidak turun dan meminta pak supir meneruskan perjalanan.

Begitulah, kita memang tidak bisa memperlakukan mereka seperti kita perlakukan supir pribadi yang memang melamar kerja pada kita. Kita kadang lupa kalau mereka itu setara dengan kita, mungkin dari tingkat pendidikan, dari strata sosial, atau dari tingkat perekonomian.

Eh tapi bukan berarti yang tidak setara dalam hal-hal tersebut di atas bisa kita perlakukan seenaknya dong ya (“,)

Advertisements