es krim ragusa

Photo diperoleh dari tigatilutigo.wordpress.com

Pertanyaan ini sebenarnya pertanyaan retorik, karena saya habis mengobrol dengan Ibu saya perihal attitude dan perlakuan orang lain terhadap kita.

Diawali dengan keinginan Ibu saya untuk makan malam di tempat jadul Ragusa – Es Krim Italia, demi sebuah nostalgi. Kalau tujuan saya sebenarnya selain menemani Ibu, saya ingin makan jajanan di luar Ragusa, seperti otak-otak, asinan-mie juhi, dan sate ayam. Karena lagi bulan puasa, maka kami mengatur waktu kedatangan tidak bertepatan dengan orang-orang buka puasa. Kami pun menyambangi tempat di bilangan Veteran, Jakarta Pusat itu sekitar jam 8 malam. Ternyata masih rame juga tempat itu pada saat kami sampai.

Saya pernah ke Ragusa sebelumnya sekitar 2 atau 3 kali, waktu saya masih (lebih) muda. Saya sudah paham pelayanan disana, tidak bisa dikasih ponten bagus lah. Para penyaji yang tidak ramah, fasilitas meja kursi yang kebersihannya juga so-so, serta hal lainnya, tapi niat saya datang kesana memang untuk makan es krim jadul, habis perkara.

Ternyata berbeda dengan perasaan Ibu saya, yang sangat kaget dengan pengalamannya ke Ragusa tempo hari. Begitu kami masuk, dan tidak ada tempat duduk yang kosong, kami pun bertatap mata dengan penyaji serta seseorang di kasir yang kami asumsikan merupakan si bos. Mereka membuang muka dan tidak menyambut kedatangan kami, boro-boro menawarkan untuk tunggu sebentar sebelum dapat tempat duduk. Tempatnya memang tidak luas, jadi terlihat lah semua meja dari depan ke belakang bahwa tidak ada pengunjung yang sudah akan beranjak. Karena ibu saya gelisah tidak didatangi atau disapa oleh penyaji maupun si bos (melainkan hanya dilewati dengan melengos atau ya itu tadi, membuang muka), saya pun mendatangi tempat penyaji yang sedang mengambil pesanan tamu lain. Saya bertanya dengan baik, “mbak, apa sudah ada orang yang akan keluar? Apa ada meja lain untuk 3 orang?” saya tahu, pertanyaan saya itu hanya basa-basi. Tidak mungkin tiba-tiba ada meja dan kursi yang dikeluarkan dari dapur khusus untuk saya dan Ibu. Tapi saya memang merasa harus bertanya. Sambil menengok ke saya dalam waktu 1 detik kemudian melengos, si penyaji menjawab ketus “kalau gak ada yg kosong berarti gak ada meja. Disini orang cari sendiri meja kursinya!

Saya pun kembali ke ibu saya, lalu tanya apakah masih berminat menunggu. Ibu menjawab “kita keluar dari sini! Ga ada tempat!” Saya masih sempat menahan dan mengingatkan bahwa kita hanya akan menunggu sampai ada yang keluar, makan es krim, lalu pulang. Beliau ternyata histeris jawab “Peduli amat dengan es krim italia! Gak butuh Ibu kesini lagi!” Lalu beliau gamit tangan saya dan beranjak keluar.

Dalam perjalanan ke tempat makan lainnya, Ibu saya bilang bahwa sudah tidak jamannya suatu tempat usaha memperlakukan pengunjung atau tamunya dengan buruk. Ibu menambahkan, “Customer itu sebaiknya diperlakukan dengan baik, si pemilik tempat dan pengelola bisnis harus memberikan pengalaman yang baik untuk para customernya. Sooner or later, orang sudah gak mau lagi cari nostalgia disana, kayaknya!”. Ibu berpendapat, bahwa saat ini bisnis itu harus bersaing, harus berlomba-lomba untuk memperoleh kepuasan pengunjung sehingga tempat bisnisnya akan tetap laris dan maju.

Saya pun cerita, bahwa ada beberapa tempat yang mengusung nostalgi dan masa lalu, yang memang tidak mengubah cara pelayanan mereka menjadi lebih baik. Mereka menganggap, seburuk apapun pelayanan mereka, orang tetap akan datang berkunjung dan memesan hidangan mereka. Sehingga mereka menjadi besar kepala karena masih ada antusiasme pengunjung hingga saat ini. Tempat bisnis itu menjual keunggulan dan keunikan, kalau sudah punya itu, kualitas pelayanan tidak lagi mereka prioritaskan. Pada akhirnya saya pun menganggap, kalau saya tidak merasa masalah untuk makan di tempat dengan minim kualitas pelayanan – kalau saya memang menginginkan hidangannya.

Jadi, apakah saya memaklumi pelayanan Ragusa ataukah saya tidak peduli? Entahlah.

Yang jelas, Ibu saya minta dibelikan es krim Baskin and Robbins pada akhirnya untuk mengobati sakit hatinya malam itu.

 

Advertisements