Baru beberapa waktu lalu saya menulis tentang keunggulan layanan transportasi darat berbasis aplikasi online dan betapa saya memuji attitude beberapa pengemudi/driver yang saya temui. Tidak menyangka kemarin saya akan mengalami kejadian kurang menyenangkan dengan pengemudi Grab (car).

Berawal dari kelalaian saya, yang meninggalkan laptop tanpa sengaja di kursi belakang mobil Grab yang saya naiki ke suatu tempat. Setelah saya menyadari bahwa laptop tidak bersama saya setelah sekitar 10 menit keluar dari mobil tersebut,  saya pun menelepon nomer handphone si pengemudi — nanti akan saya jelaskan di bawah bahwa tindakan ini salah apabila terjadi pada siapapun –. Si pengemudi bilang bahwa dia tidak bisa mengantarkan laptop saya segera karena ia sudah terlanjur mengambil orderan penumpang lain, yang minta diantarkan ke Sudirman, lokasi yang lumayan jauh dari tempat saya berada kemarin. Akhirnya saya pun meminta si pengemudi menghubungi saya setelah ia selesai mengantarkan penumpangnya ke Sudirman.

30 menit berlalu, saya pun menelepon pengemudi tsb kembali. Ternyata ia bilang penumpangnya sudah turun, tapi ia meminta saya untuk menunggu hingga selesai ia bertugas hari itu. Saya pun bilang padanya kalau saya meminta tolong ia mengantarkan laptop saya saat itu juga, dengan menawarkan akan memberikan kompensasi atas biaya transportasi dia dari Sudirman menuju lokasi saya di Bintaro. Ia pun menyetujui akan mengantarkan segera – segera setelah saya sebut akan ada kompensasi/penggantian.

Sekitar 5 menit setelah tutup telepon, si pengemudi mengirimkan sms kepada saya, yang isinya adalah “maaf sebelumnya, keberatan atau tidak biaya transportnya 500 ribu?”. Sebelum saya menjawab isi sms yang mengejutkan itu, saya mengecek dulu tarif dan kilometer yang ditempuh apabila saya menggunakan jasa Grab dari Sudirman ke Bintaro, yakni sekitar 65.000 – 100.000. Tentu saya keberatan kalau harus membayar 5 kali lipatnya seperti yang diminta. Saya pun membalas smsnya dengan sopan, “tentu saya keberatan kalau harus bayar 500.000, karena jarak yang ditempuh dari tempat bapak ke tempat saya tidak sejauh itu. Saya hanya bisa bayar 150.000 untuk mengganti ongkos transportasi beserta lebihan.” Tidak menyangka ia sms lagi, “baik kalau keberatan, 400 ribu saya berangkat sekarang, dalam 30 menit saya sampai. Itu dengan risiko saya di-lock aplikasinya dan gak bisa ambil orderan lain”. Saya tidak mengiyakan permintaan dia, hanya menjawab “bapak kesini aja, saya tunggu sekarang”. Ia pun masih mengirimkan sms ‘sopan’ seperti “maaf mohon pengertiannya, bukan apa-apa, ini untuk mengganti kerugian perjalanan saya”.

Singkat cerita, ia pun tiba 30 menit kemudian di tempat saya berada. Tapi ada kejadian lain begitu saya dan si pengemudi bertemu untuk ‘transaksi’. Saya mendatangi mobilnya, dan ia pun membuka kaca pintu, tanpa memberikan laptopnya, hanya melihat saya — mungkin ia mau memastikan apakah saya sudah bawa uang untuknya– Saya pun melongok ke dalam mobilnya sambil bertanya “laptop saya mana Pak, ada kan?” . Ia pun hanya menjawab “insyaallah ada” dengan TETAP TIDAK MEMBERIKAN laptop saya. Akhirnya saya pun keluarkan uang yang saya sanggupi, dan bilang “saya cuma bisa kasih uang segini, makasih sekali kalau Bapak mau beritikad baik mengantarkan laptop saya kesini dan memberikannya ke saya. Mana laptopnya?” Dia pun menggerakkan tangan kirinya mengangkat laptop saya yang ia taruh di dekat paha kirinya. Lalu dia pun menaruh laptop saya di dashboard dekat kaca mobil sehingga terjangkau oleh saya. Saya langsung memasukkan tangan saya ke dalam mobilnya untuk mengambil sendiri laptop saya, dan memberikan uang penggantian yang sudah saya niatkan. Si pengemudi sempat bilang pada saat menerima uang, “ya sudah bu, gak papa, asal ibu ikhlas”. Lalu saya pun menjawab “seharusnya Bapak juga ikhlas membantu saya” dan saya pun pergi meninggalkannya untuk mengecek laptop saya.

Teman-teman, apabila ada yang mengalami tertinggalnya barang di mobil penyedia layanan berbasis aplikasi online — kebetulan dalam kasus ini, Grab– , lebih baik kalian telpon kantornya aja dibanding telpon si drivernya. Karena kalau laporan kita masuk, akan segera mereka tindaklanjuti dengan me-lock aplikasi si pengemudi, sampai si pengemudi mengantarkan barang yang tertinggal tersebut kepada pemiliknya. Dengan begitu, si pengemudi mempunyai kecil kemungkinan untuk bisa semena-mena bernegosiasi dengan pemilik barang, karena laporan yang sudah tercatat di kantor.

Saya tentu tidak jera menggunakan jasa Grab atau layanan lainnya, karena tidak semua pengemudi atau driver Grab begitu attitude-nya; memanfaatkan kesalahan orang lain. Saya pun memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini dengan memasukkan laporan yang akan ditindaklanjuti, toh laptop saya sudah kembali dalam keadaan baik.

Saya mendapat pengalaman yang berharga. Dan harganya sama sekali tidak murah.

 

Advertisements