Selama ini saya tidak pernah bersinggungan langsung dengan kejadian anak hilang; saya sering membacanya di beberapa online article, social media, berita (yang sering membuat hati saya celos), namun saya tidak pernah benar-benar memikirkannya secara panjang lebar.

52anak-hilang-ilustrasi

Hingga beberapa hari lalu.

Saya, Lut, dan Denyar pergi ke Living Plaza di daerah Bintaro sektor 7. Sampai di tempat bermain anak yang gratisan (berarti tidak ada pengawasan), kami bertemu dengan seorang anak kecil (kira-kira usianya 5 tahun) yang bertanya dengan bingung “liat papa gak? papa ilang”. DEG. Jantung saya berasa mau jatuh. Sebelum saya emosional, saya teringat suatu modus kejahatan yang waktu itu sempat disebarluaskan di broadcast message. Bahwa ada anak yang mengaku tersesat atau hilang/terpisah dari orang tuanya, kemudian pihak penemu anak tersebut pun ‘berbaik hati’ mengantarkan si anak ke rumah yang ditunjukkan arahnya oleh si anak. Sesampai disana, ternyata ada komplotan penjahat yang kemudian menyekap si pengantar yang baik hati tersebut. Singkat cerita, anak hilang tersebut bagian dari kejahatan komplotan tersebut.

Saya pun berhati-hati sekali menanyakan anak itu, seperti “siapa nama kamu?” “siapa nama papa?””tadi kesini sama siapa aja?” “papa tadi bilangnya mau kemana?” “umurnya berapa?” dan sebagainya. Si anak lancar menjawab namanya, tadi datang ke tempat ini berdua papanya, papanya mau beli parfum mobil, mamanya sedang pergi ke rumah eyang, dan sebagainya. Saya pun mengira kalau si papa sedang ke toilet atau membeli sesuatu di dekat situ, sehingga anaknya diminta bermain di playground gratisan itu.  Saya pun menyuruh dia bermain dulu bersama anak saya, sambil menunggu papanya datang lagi. Setengah jam berlalu, 45 menit berlalu, papanya gak kunjung datang. Si anak pun mulai tanya lagi, kali ini sambil menangis “papa gak adaaaa…!” Kemudian saya pun kembali membujuk dia untuk main sebentar lagi, dan mencarikan air minum untuknya. In the meantime, Lut pun mencari satpam dan meminta satpam untuk menyebarkan informasi mengenai anak yang terpisah itu pada pengeras suara tempat tersebut. Satpam juga mengerahkan beberapa rekannya untuk berpencar dan mencari papanya.

Singkat cerita, Lut pergi ke kedai kopi di sekitar situ dan mencari pria yang sedang sendirian, yang siapa tahu saja tidak mendengar informasi pada pengeras suara. Ada lah satu bapak-bapak duduk sendiri minum kopi sambil sibuk dengan ponselnya. Dicoleklah sama Lut, dan tanya “apa  Bapak punya anak perempuan namanya anu?” Si bapak tersebut pun mengiyakan. Lantas Lut bilang “itu anaknya daritadi nyariin sambil nangis, tolong kesana dan jagain!” Sempat si bapak berdalih kalau daritadi dia duduk disitu, dan si anak tahu dia disitu, tapi memang dia pindah tempat duduk. (please, selain itu bukan dalih yang bagus, juga suatu tindakan tolol meninggalkan anak kecil di suatu tempat tanpa pengawasan dan tidak memantaunya secara berkala — ditambah pindah tempat duduk pula yang tidak terlihat oleh si anak).

Akhir bahagia adalah si anak pun bertemu kembali dengan papanya, dan si papa pun membawa si anak duduk bersamanya untuk menenangkan diri.

Lantas saya pun berpikir keras. Bagaimana apabila hal tersebut terjadi pada saya, Denyar terpisah dan saya dan ayahnya. Apakah kami sudah membekali dia dengan cukup untuk dapat bersikap tenang dan bisa menjawab pertanyaan orang lain yang mau membantu? Saya bergidik memikirkannya. Saya baru mempersiapkan Denyar secara minim, ternyata. Apabila ia terpisah dari saya, ia tidak usah menangis, melainkan ia harus berteriak kencang memanggil saya, sehingga saya akan mendengarnya. Cuma itu bekal dari saya selama ini.

Saya dan Lut pun akhirnya menambah perbekalan-yang-amit-amit-terjadi-pada-kami-dan-Denyar. Beginilah kira-kira perbekalan untuk para orang tua dan anak,  terutama yang masih kecil.

  • Nama lengkap sendiri, nama orang tua dengan jelas, usianya, serta letak rumah.

Seorang anak harus selalu dilatih menyebutkan namanya dan nama orang tuanya dengan jelas dan dapat dipahami oleh orang lain. Begitu juga dengan usia dan letak rumah, apabila ditanya, ia harus dapat menyebutkannya secara lugas. Contoh: nama Denyar, nama ayah Lutfi, nama bubu Vina, usia 4 tahun, rumah di bintaro. Kalau ditanya oleh orang lain, dia harus dapat memberikan jawaban-jawaban itu.

  • Mengingat pakaian si anak yang dikenakan pada saat pergi.

Saya selalu terbiasa untuk memfoto anak saya setiap kami akan pergi ke satu tempat, baik itu foto sendiri, atau foto selfie dengan saya/ayahnya. Tujuannya adalah kami punya foto paling anyar mengenai penampilan dia. Rata-rata orang tua yang panik juga akan kesulitan mengingat warna baju si anak apabila dalam kondisi terpisah dari anak. Saran lain, yang lebih niat, pakaikan si anak baju yang berwarna sama dengan kita. Sehingga kita pasti akan mengingatnya penampilan terakhir dia, ditambah, untuk mencari anak yang sedang terpisah, mata kita akan fokus pada warna pakaian yang kita cari saja.

  • Gelang identitas si anak.

tag-id

Ada gelang yang beberapa tahun ini marak dijual, yaitu VN identity for emergency/wrist ID. Gelang terbuat dari karet yang tersedia dalam berbagai warna terdapat lempengan logam yang berisikan identitas si pemakai gelang tersebut. Dari mulai nama lengkap, nama orang tua, golongan darah anak, dan nomer telepon yang bisa dihubungi untuk keadaan darurat (dalam hal ini nomer telepon orang tua). Saya terus terang belum sempat membeli gelang ini, tapi saya akan mulai memesannya sekarang.

  • Siapkan anak untuk mengatasi rasa panik.

Biasakan si anak untuk tidak melulu menangis atau panik apabila terpisah dari orang tua. Saya beberapa kali menjauh dari Denyar kalau sedang berada di supermarket untuk mengajarkan bagaimana ia harus bersikap, sekaligus mengetahui apa solusi si anak kalau terpisah dari orang tuanya. So far, Denyar pasti teriak kencang “bubu!!!” dan saya pun datang. Tapi tentunya, hal tersebut hanya terjadi dalam durasi diatas 5 menit. Saya masih harus mengajarkan ia untuk mengatasi rasa paniknya di atas durasi 5 menit.

  • Selalu mengupdate kepada anak tentang keberadaan dan keperluan.

Selalu komunikasi dengan anak mengenai keperluan kita pergi, kemana kita pergi, dan dimana kita berada. Saya selalu memberitahu dia di dalam perjalanan kalau kita mau pergi ke tempat ini, untuk membeli atau melihat ini. Di tempat tujuan pun, saya selalu memberitahu bahwa kita akan naik ke lantai ini, untuk ke tempat yang menjual ini. Kalau kita pindah tempat, kita selalu harus beritahu si anak. Contoh: “sekarang, kita akan ke lantai bawah, untuk ke apotik, Bubu mau beli obat batuk”. Pastikan anak selalu terupdate posisi kita berada dimana, dan akan kemana. Dengan begitu, ia pasti akan mengingatnya dan dapat menginformasikannya ke orang lain.

Semoga saran-saran saya di atas dapat menjadi referensi maupun pertimbangan. Tentunya semoga kita semua selalu terhindar dari kejadian terpisah dari anak-anak kita.

Advertisements