Dimana lagi kita bisa belanja barang-barang apa aja jam berapa aja pake baju tidur atau cuma selembar handuk nempel di badan secara basa-basi? Yah online shop lah. Sekian tahun saya ‘terjerumus kenikmatan’ di dalam serunya online shopping.  Bikin saya udah paham banget kalau belanja baju online itu harus jelas lingkar dadanya berapa, bahannya yg bikin perut bletet-bletet dan dada memberontak apa gak, lingkar pinggang gimana dsb. Bikin saya udah ngerti banget kalo belanja sepatu itu mendingan memastikan size yg dipakai itu US size, UK size atau lainnya. Bikin saya juga tau banget kalau pesan skin care products harus cari tau dulu berasal dari trusted seller. Belum lagi saya hapal harga dan kebiasaan layanan JNE, Pos Indonesia, TIKI, dsb.

Tapi, ternyata sekarang saya kecele juga. Sebagai online shopper dedengkot yang berkecimpung sudah lama di dunia ini, saya malu ngakuinnya betapa cerobohnya saya. Berawal dari ide yang stuck ketika akan menghadiahkan keponakan di hari ulang tahunnya. Karena ide kasih lipstick muncul tiba2 (setelah dia bilang mau coba2 dandan), langsunglah saya kepikiran untuk beli lipstick lewat online shop. Kali ini saya beli lewat salah satu Instagram account yang sebelumnya tidak pernah saya follow. Ini kesalahan pertama. Karena saya butuh cepat, saya ke kolom search tags di Instagram dan ketik keyword yang saya pikirkan. Lipstick merek X. Keluarlah beberapa akun yang menjual barang yang saya butuhkan. Tergiurlah saya dengan salah satu akun yang menjual barang tersebut dengan harga sangat miring. Langsung saja saya kontak pemilik akun melalui Line message. 2 hari tidak ditanggapi, saya kok ya gak cari lagi akun lain – mungkin bener2 tergiur sama harga miring. Hari ketiga dia menanggapi dgn memberikan format order, sama seperti seller2 lainnya. Saya isi form dan kemudian ia memberikan total biaya yang harus ditransfer, dsb. Ongkir memang agak mahal karena barang dikirim dari Bali. Saya pun mentransfernya 2 jam setelah si seller menyebutkan jumlah biaya dan nomer rekening.

Setelah saya mengirimkan konfirmasi pembayaran, ia masih menanggapi dan bilang barang akan sampai sekitar 3-4 hari. Masih dalam batas waktu yang aman – pikir saya. Saya pun menanti dengan sabar. Hingga hari ke-5 saya mulai gelisah karena sebentar lagi si keponakan ulang tahun dan undang makan-makan. Kado belum sampai juga di tangan. Saya sampai wanti-wanti sama orang rumah untuk terus buka telinga kalau-kalau petugas pengantar barang gak nemu bel-nya dan halo-halo spada-spada dari luar pagar. Ok, hari ke-5 itu saya pun kirim Line message. Gak di-read. Saya pun kirim Whatsapp message. Gak juga di-read. Makin gelisah. Biasanya kalau seller yang beneran itu gak pernah gak aktif, kalau bisa dia punya beberapa nomer untuk dihubungin. Kalau memang ponselnya hilang, dia masih bisa akses akun medsos-nya lewat gadget lain, demi tidak putus hubungan sama buyer-nya.

Akhirnya saya pun ke Instagram page-nya, terakhir dia post foto itu 5-6 hari lalu. Yang menarik, di postingan terakhir, ada orang marah-marah, yang intinya dalah “foto kapan ini yang dipost, jangan menuh-menuhin instagram saya, dan sebagainya”. Saya klik foto sebelumnya, orang yang sama marah-marah juga, dengan bilang “saya bisa beli semua produk ini!”. Saya pun curiga. Saya scroll down semua postingan si pemilik akun/seller. Ternyata postingannya banyak yang diulang-ulang dgn gambar yang benar-benar sama. Dan, setiap postingan tidak ada yang merespon dan memberikan testimoni (meskipun ada aja sih testimoni bodong alias palsu), sama sekali gak kayak online seller yang punya banyak buyers dan loyal customers.

shopaholigan

Saya pun sadar kalau saya tertipu. Memang tidak besar kerugiannya (ditambah saya harus beli barang-barang di outlet langsung untuk kado keponakan), tapi lebih kepada kecewa karena saya punya harapan dari transaksi jual beli ini. Bahkan saya mikir tadinya, kalau memang barangnya telat sampai, saya akan jual lagi supaya gak rugi-rugi amat. Tapi tampaknya memang tidak akan pernah ada barang yang datang.

Untuk para online shopper di luar sana, berhati-hatilah dalam melakukan online shopping. Selain teliti akan keaslian barang dan ukuran yang tepat, juga harus cek dulu apakah si seller ini punya buyer/pelanggan. Jangan lupa untuk review semua postingannya untuk mengetahui apakah ada yang mencurigakan dari postingan2 tersebut.

Berikut adalah links untuk mengetahui si seller penipu itu:

https://www.instagram.com/shopaholigan/ atau https://www.p1c.online/shopaholigan . Nama seller/pemegang rekening adalah Debora Jasmin Sulistio. Kalau memang saya salah sangka dan ada alasan yang tepat atas menghilangnya dia dan tidak sampe2nya barang pesanan saya, saya bersedia meminta maaf atas adanya postingan ini.

Advertisements