Setiap tahun pasti selalu saja ada masa-masa penting yang terjadi dalam hidup manusia. Tahun pertama kali pacaran. Tahun pertama kali kuliah. Tahun pertama kali bekerja. Tahun dimana kehilangan anggota keluarga. Tahun dimana kehilangan keperawanan. Tahun menikah. Tahun memiliki anak. Dan lain-lain.

 

Kembali ke tahun 2016.

Saya akan selalu ingat tahun ini (juga) sampai kapanpun. Banyak yang terjadi dalam hidup saya di tahun ini.

 

Tepat tanggal 1 Januari 2016 (dari 31 Desember 2015 malamnya sih), saya memutuskan untuk memakai hijab. Awalnya hanya ingin mencoba-coba keluar makan malam sambil memakai kerudung untuk pertama kalinya dan merasakan efeknya. Lut pun menanyakan “yakin mau dipake terus?” Saya Cuma jawab, “disini gak ada yang kenal aku, jadi kalo besok aku lepas gak papa lah..”. Dan ternyata tidak pernah saya lepas sampai dengan sekarang hehe.

img_3412

Tepat tanggal 22 Januari 2016, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai pengacara dan konsultan HKI di kantor, dan menjadi ibu rumah tangga/freelancer. Saya sudah mulai bekerja dan menerima penghasilan dari tahun 2005 (diluar part time yang saya lakukan semasa kuliah), jadi saya sudah (baru) 10 tahun malang melintang di dunia pekerjaan/perkantoran. Kaget, shock, frustasi, galau, hampir tiap hari saya rasakan. 3 bulan pertama masih santai dan menikmati sisa gaji/tabungan yang belum dipakai. Bulan ke 4 sudah mulai ‘bergantung’ sama Lut, dan bosan di rumah. Kegiatan sehari-hari Cuma urus anak dan antar sekolah, kerja part time (sesuai project yang diberikan), kembali ke sekolah jemput anak, antar les, urus rumah tangga, dan hang out seperlunya sama beberapa teman dekat. Bulan ke 6 lah saya sudah mulai iri dengan teman-teman yang bekerja dan punya me time (juga punya uang hedon hehe). Apalagi saya mulai di-bully oleh teman-teman maupun anggota keluarga. Oh, betul, ibu dan kakak saya mempertanyakan terus-terusan kenapa saya resign, dan menyayangkan hal tersebut. Semua terbayarkan setelah saya melihat (dan berdasarkan perkataan orang lain juga), kalau Denyar banyak progres-nya dalam hal pendidikan dan sosialisasi – sejak saya handle langsung sendiri. Syukur. Itulah yang saya kerap lupakan atas keputusan saya terkait resign.

img_3839

Berhubungan dengan hal di atas, otomatis berdampak pada kelangsungan hidup saya selama tahun 2016. Tahun yang penuh keprihatinan, terutama dalam hal finansial. Lut merintis karir baru di kantor baru, sehingga saya yang notabene penganggur, harus sangat bijak dalam mengatur uang yang ada. Beberapa gaya hidup harus diubah. Beberapa hobi harus dihilangkan. Beberapa rencana harus ditangguhkan.

 

Tahun 2016 juga adalah tahun saya bersosialisasi dengan sesama orang tua murid di sekolah. Saking seringnya saya antar jemput dan sesekali menunggu di sekolah, kami jadi dekat satu sama lain. Beberapa dari kami sering nongkrong bareng di dalam maupun di luar sekolah, wisata kuliner bareng, main ke rumah satu sama lain, dan paling sering playdate sama anak-anak juga. Tapi, sama halnya dengan teman-teman sekolah, kuliah, kantor, teman-teman ortu murid sekolahan juga ada masanya terjadi friksi, kerenggangan, peer pressure, bully, dan lain-lain. Kalau itu sedang terjadi, saya pun menjauh dari keramaian sekolah sementara supaya tidak terjadi konflik berkepanjangan hehe. Ortu murid juga manusia-manusia menakutkan loh (saya pun termasuk di dalamnya).

img_9432

O ya, tahun ini adalah tahun pertama saya mulai merintis Klamut-Klamut, bisnis kecil-kecilan makanan ringan yang hanya dibuat berdasarkan pesanan. Semata-mata hanya untuk menambah uang jajan untuk nonton bioskop, nongkrong di kafe favorit, beli buku, beli baju dan sepatu, jajan lipstick, dan membeli kado ulang tahun anaknya teman atau anggota keluarga. Karena meskipun keluarga kami tidak kekurangan, tapi uang yang ada diprioritaskan untuk kebutuhan yang sifatnya penting. Primer. Utama. Bukan hiburan atau hura-hura.

img_7779

img_8092

Saya akan selalu ingat dengan kejadian suatu sore di toko roti La*w. Waktu itu saya mau membeli 2 pack roti tawar untuk pesanan sandwich Klamut-Klamut, dan pada saat saya mau bayar, semerbak aroma roti gambang baru keluar dari oven, siap dipajang di display transparan. Aromanya yang magis bikin saya membayangkan rasa roti tersebut, dan menghipnotis saya untuk buka dompet dan membayar untuk roti itu. Harga roti tersebut Cuma 9 ribu. Tapi uang di dompet saya hanya bisa membeli 2 pack roti tawar demi pesanan pelanggan. Sisa uang di atm hanya untuk kebutuhan-kebutuhan… mendesak dan penting seperti ditulis di atas tadi. Gak ada spare uang untuk hiburan atau hura-hura. Meskipun 9 ribu. Saya masih ingat, saya mau nangis di depan display transparan itu. Roti-roti gambang saya pandangi seperti anak kecil yang memandangi kue favoritnya tapi tidak punya uang untuk membelinya. Ah, menuliskan ini lagi jadi ingin menangis.
Singkat cerita, kehidupan saya tahun 2016 berangsur-angsur membaik. Saya udah mulai bisa ‘napas’ setelah banyak freelance job dan durian runtuh datang bersamaan. Bisa kembali ajak Denyar jalan-jalan, bisa belanja kebutuhan diluar kebutuhan primer, bisa hedon sama teman-teman, bisa menabung, dan bisa beli roti gambang!

Such a blast year. Semoga tahun 2017 tahun yang lebih baik dan saya makin pintar untuk cari kebahagiaan lahir batin.

img_8224

 

 

Advertisements