Sudah jauh menurun antusiasme saya terhadap PILKADA DKI Jakarta putaran kedua ini. Bukan karena saya pendukung salah satu mantan paslon yang kalah unggul dengan dua paslon lainnya di putaran pertama pemilihan. Bukan pula karena saya pendukung salah satu paslon yang sedang ‘bersaing’ saat ini dalam memperebutkan kursi Gubernur. Saya menulis sebagai warga Jakarta, yang sudah lelah.
Lelah akan akibat dari pilkada. Ya perdebatannya. Ya perpecahannya. Ya gunjingannya. Ya amukannya. Ya kerusuhannya. Kekacauan. Kebencian. Kecintaan berlebih. Ketegangan.  
Hubungan jadi renggang. Antar teman. Sahabat. Kerabat. Bahkan suami istri. 

Sahabatan udah puluhan tahun tapi sejak beda suara dalam pilkada langsung rusak hubungan, gak angkat telepon dan balas message, serta saling unfollow di media sosial.

Ada salah satu member di Whatsapp Group yang minoritas dan membela ‘jagoannya’, langsung di-remove karena dianggap meresahkan dan mengganggu.

Pasangan suami istri yang berbeda pendapat dan suara tentang paslon dalam pilkada, ujung-ujungnya diem-dieman dan pisah ranjang.

Way too much.

Awalnya saya excited berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah ini. Memantau program serta kampanye masing-masing calon. Baca kisah hidup mereka. Cari tahu sepak terjang mereka. Kelemahan mereka. Prestasi mereka. Lalu kemudian, tidak bisa tidak, info-info tambahan yang saya baca belakangan jadi cenderung subyektif. Plus label-label yang kemudian ‘dipasang’ terhadap mereka. Si Mulut Kasar. Si Tukang Bual. Si Kacung Cukong. Si Fundamentalis. Si Hidung Belang. Si Tukang Obat. Si Pendongeng. Si Penista Agama.  
Bukan lagi Jakarta butuh pemimpin kayak gimana. Tapi warga Jakarta yang harus bagaimana meski siapapun pemimpinnya. Masa iya sih harus jadi saling benci, saling tuding, saling hina, saling sindir, demi jagoannya meraih kursi kepemimpinan? Sayang sekali, semakin kesini, semakin terpecah belah warga kota ini. Pro A dan pro B. Anti A dan anti B. Anu dan non anu.

Sebenarnya sebagian besar warga Jakarta pada peduli gak sih sama program kerjanya paslon? Kinerjanya paslon? Apa jangan-jangan cuma milih siapa yang seiman, atau se-suku/golongan, atau siapa yang paling kreatif dan seru bikin acara? Jangan-jangan memang cuma cari keseruan tentang jagoan siapa yang akhirnya menang. Bisa jadi nanti pendukung paslon yang menang suara, jumawa. Jadi kayak ikut taruhan terhadap adu tarung antar pesilat. Pegulat. Petinju. Atau apalah itu. Jangan-jangan setelah selesai penghitungan suara dan diputuskan salah satu paslon menang, kubu pendukung paslon yang tidak menang suara akan menciptakan kekacauan baru. Aksi protes. Huru-hara. Sebar isu. Bongkar aib. Atau sekedar nyinyir di media sosial dan kemudian menjadi viral. Persis kayak penonton sepak bola yang gak sportif, bully, dan serang penonton kubu lawan yang sedang bersukacita.

Saya lelah, dan ingin semua ini segera Saya cuma ingin sesegera mungkin gunakan hak pilih. Simak penghitungan suara. Terima hasil penghitungan suara dengan iklas. Dan dukung pemimpin baru untuk mulai bekerja keras demi pembangunan dan pembenahan Jakarta.

Devina – ibu rumah tangga, freelancer, warga DKI Jakarta.

Advertisements