Ketika obgyn menyatakan bahwa Hari Perkiraan Lahir (HPL) si kiddo sekitar tanggal 14 Juli 2012, saya mulai mempersiapkan mental untuk menyambut hari besar tersebut. Optimisme yang saya punya mengenai pilihan persalinan normal sulit untuk dipertahankan mengingat beberapa fakta yang diketahui ketika saya hamil (dari muda sampai tua), yakni:
–    Kiddo agak underweight; saya sempat diinfus glukosa untuk menambah berat badannya. Kalau tidak bertambah signifikan, maka harus dilahirkan secara caesar.
–    Kiddo kelilit tali pusat. Sempat dilepas, lalu kelilit lagi, lepas, kelilit lagi. Yang bikin saya panik adalah tali pusatnya melilit lehernya, apabila lilitannya erat maka tidak disarankan untuk bersalin normal karena akan membahayakan ibu dan bayi.
–    Posisi Kiddo masih di atas sampai bulan ke-9 meskipun kepala sudah berada di bawah.
–    Obgyn yang saya pilih ternyata bukan dokter yang pro persalinan normal; kalau ada masalah sedikit langsung membicarakan  caesar.
–    Semua sepupu di keluarga besar saya tidak ada yang pernah melahirkan secara normal; mau tidak mau hal ini jadi bahan pikiran saya, dan menurunkan kadar kepercayaan diri saya sedikit demi sedikit.

Senang hati saya ketika diperiksa bidan pas senam hamil terakhir, posisi kepala Kiddo sudah masuk jalan lahir, meskipun belum terkunci. Alhasil saya setiap malam melatih jalan jongkok, duduk bersila dan setiap paginya memperbanyak jalan kaki dan naik-turun tangga ketika berangkat ke kantor. Somehow saya punya harapan dan keyakinan, bahwa dengan saya aktif bergerak dan berlatih, Kiddo akan lancar lahirnya tanpa kesulitan yang berarti. Selain itu saya selalu ajak bicara dia dengan kalimat-kalimat “nanti kita berjuang sama-sama ya nak” atau “kita harus kerja sama dengan baik ya nak” atau “jangan menyusahkan bubu pas lahiran nanti ya nak” dll. Saya percaya pesan itu sampai ke dia.

Akhir Juni ketika periksa kesekian kalinya ke obgyn, ada berita yang kurang baik. Lilitan tali pusat masih ada, di leher dan tangan, sehingga bisa menyulitkan Kiddo untuk bergerak turun kebawah. Terakhir kalinya dokter menyarankan untuk caesar, namun beliau masih menanyakan pendapat dan pilihan saya. Tanpa ragu saya menjawab “Apabila memungkinkan, saya tetap memilih untuk bersalin normal”. Akhirnya si dokter menerima, meskipun dia menambahkan “oke, tapi kita liat nanti di waktu-waktu terakhir ya, kalau ada yang membahayakan, dan tindakan yang tepat adalah operasi, saya tidak mau kita ambil risiko ya”. Oke, cukup bergetar juga dada saya mendengar kalimat itu.

Tanggal 4 Juli 2012 saya beraktivitas sejak siang hingga malam. Hari itu adalah hari dimana usia kandungan saya menginjak 36 minggu 5 hari. Setiap bertemu orang-orang hari itu, saya bilang “iya nih, bisa kapan aja nih lahirnya. Kalo kontraksi ya capcus”. Banyak dari mereka yang concern dengan jauhnya rumah saya dari rumah sakit bersalin, selalu saya tanggapi dengan santai. Memang, saya dan Lut terpikir untuk menginap di hotel atau guesthouse di sekitar rumah sakit pada hari-hari menjelang kelahiran, namun kami tidak tergerak untuk mulai menginap di minggu itu. Pulang kerumah sekitar jam 10 malam. Ketika bersiap akan tidur saya berkeinginan untuk buang air besar. Mumpung Lut masih nonton konser Coldplay, saya pun buang air besar sekitar jam 12 malam. Setelahnya saya menyadari bahwa saya mengeluarkan darah terus menerus. Mencoba untuk tidak panik, saya mendatangi Lut untuk lapor dan langsung kita bersiap-siap beranjak ke dokter. Untung waktunya dini hari sehingga jarak Bintaro-Wijaya dapat ditempuh dengan 20-25 menit saja, jadi gak ada tuh yang namanya drama sinetron.

Jam 2 dini hari diperiksa dalam oleh dokter, ternyata belum ada pembukaan sama sekali. Darah yang keluar disebabkan rahim saya mengalami pendataran (1 proses sebelum mulai pembukaan), jadi saya hanya disuruh beristirahat di kamar rumah sakit (yang istirahatnya lebih pules tentu saja si Lut hehe). Pagi ke siang sudah mulai kontraksi 5-10 menit sekali dengan durasi 30-40 detik, ditambah darah yang semakin banyak keluar. Saya punya firasat pembukaan sudah dimulai, tapi jam praktek dokter baru sekitar jam 3 sore jadi saya harus menanti dengan sabar untuk diperiksa lagi. Jam 3 sore kontraksi sudah semakin terasa sakit, dengan jarak 5 menit sekali dan durasi 50-60 detik. Ketika diperiksa dalam lagi oleh dokter (percayalah, tangan dokter gendut memasuki jalan lahir ketika kontraksi terjadi itu bikin kepala nyut-nyutan dan pandangan b
erkunang-kunang), saya berharap kondisi saya sudah masuk pembukaan 1 atau 2. Ternyata dokter bilang “Oke, ini udah pembukaan 5 ya bu”. Hweh? Kapan pembukaan 1-4 itu terjadi? Saya langsung bersyukur sekaligus deg-degan ketika si dokter meneruskan dengan kalimat “kita lihat, kalau kontraksi berlanjut dengan baik, malam ini kita bersalin. Tapi tali pusat masih melilit nih bu, mudah-mudahan tidak menghalangi proses”.

Saya tidak bisa mendeskripsikan rasa sakit kontraksi lanjutan, apalagi sejak pembukaan 7 hingga 10. Setelah maghrib, saya sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik, yang ada hanya erangan, geraman, dengusan, bahkan kalau ada cukup tenaga ya teriakan. Ada Lut, ibu, keponakan, kakak ipar, sampai sahabat saya berada di dalam kamar mencoba untuk membuat saya merasa lebih nyaman, semuanya gagal. Berkali-kali saya menggenggam tiang botol infus setiap saya menderita kesakitan. Untung sekitar jam 7 lewat saya dibawa turun ke ruang persalinan. Teman-teman saya yang semakin banyak berdatangan hanya bisa saya dadahin dan senyum sekilas dari kursi roda yang bergerak menjauh. ‘Ok, this is it’, batin saya ketika lift bergerak turun.

Di dalam ruang bersalin, air ketuban saya ditusuk untuk dipecahkan, langsung rasa sakit semakin menjadi. Kiddo sudah bergerak ke bawah, dan seketika kontraksi sudah terasa seperti tanpa ada jeda lagi, terus-menerus menyiksa. Dalam posisi miring ke kiri, saya hanya bisa memandangi Lut dan memegang tangannya kencang2 (tidak ada tuh adegan cakar-cakaran seperti yang diprediksi sepupu-sepupu saya). Bidan berulangkali mengingatkan untuk tarik napas dan buang napas. Momen yang paling sulit adalah ketika rasa sakit sudah maksimal tapi saya belum boleh mengejan karena posisi kepala Kiddo belum pas di tengah-tengah. Saya tanpa sadar mengejan dan langsunglah diingatkan kembali secara keras oleh bidan. Dokter sudah ambil posisi dan terus bilang “belum bu, kepala belum pas”. Saya sempat menggigil dan kalau tidak salah bilang “saya mau ngeden, saya gak kuat”. Lalu ketika merem pun sempat bermimpi (entah mimpi entah perjalanan roh) saya sedang bersenang-senang. Ketika melek kembali diingatkan untuk berjuang. Teringat ibu saya di lantai atas yang mana belum sempat saya pamit-in ketika mau bersalin. Saya belum sempat memohon maaf dan restu ibu untuk melahirkan anak saya. Saya terpikir untuk bicara sama Lut untuk menelepon ibu saya, tapi saya bener-bener gak ada tenaga untuk bicara. Saya hanya bisa membaca Ayat Kursi, karena itu saja yang saya ingat. Lalu, tibalah saatnya. Dokter bilang “oke bu, posisinya sudah pas. Ayo kita mengejan”. Yang saya ingat saya hanya memandang wajah bidan dan membaca bibirnya yang menyuarakan “tarik napas, ngeden, tahan, ngeden lagi, buang napas”. Saya ikuti terus petunjuknya dengan mengeluarkan sisa tenaga yang dimiliki. Sekitar empat kali mengejan, tiba-tiba ada yang panas dan basah keluar dari bawah, dan sontak semua berseru “nah, sudah…”. Lalu menangislah bayi mungil di bawah saya. Saya cuma bisa memandangi Lut tanpa bisa berbicara atau bertanya. Dan langsunglah bayi merah dan penuh lendir itu ditaruh di dada saya untuk IMD. Otomatis air mata saya pun mengalir. Bayi perempuan berlendir itu sehat dan sempurna tanpa kurang suatu apa, alhamdulillahirobbil alamin. Ia berhenti menangis ketika Lut mengumandangkan adzan di telinganya, lalu kembali menangis. We love you so much, Kiddo.

Nama si mungil: Denyar Gemintang, yang artinya bersinar dengan getaran cahaya bagaikan sekumpulan bintang. Lahir pada 5 Juli 2012 dengan berat badan 3,02kg dan panjang 48cm.